menu-button
Cara Investasi di Securities Crowdfunding Investasi Keuangan Bisnis

Memahami Apa Itu Hustle Culture & Cara Terhindar dari Hustling Culture

Friday, 5 Aug 2022

Read in 6 minutes

Author: Rafa Syawalia R
Apa Itu Hustle Culture di Indonesia

Budaya pekerjaan saat ini mulai bergeser dari kebutuhan menjadi sebuah kebiasaan yang lumrah dan kerap dikenal dengan hustle culture.

Di antara kita pasti pernah bekerja keras karena untuk mencapai sesuatu dan terjebak di dalam hustle culture. Arti apa itu hustle culture adalah suatu budaya untuk bekerja keras dengan mendorong diri sendiri di luar kemampuan mereka. Tingginya kebutuhan hidup membuat beberapa pola pikir manusia berubah, salah satunya yang sering kita dengar adalah banyak kerja akan menghasilkan banyak uang. 

Persaingan pekerjaan saat ini sangat ketat, sehingga tidak heran banyak pekerja di Indonesia yang terjebak di dalam budaya kerja yang sangat cepat yaitu hustle culture. Lalu, banyaknya pengguna sosial media yang memperlihatkan aktivitas saat kerja pun membuat beberapa orang mendorong dirinya untuk tetap produktif secara tidak lazim.

Yuk, pahami apa itu hustle culture, dampak dari budaya kerja tersebut dan mengatasinya bersama!

Apa Itu Hustle Culture?

Melansir dari Oxford Learner Dictionary, arti hustle culture dorongan untuk seseorang bergerak secara agresif. Apa itu hustle culture secara sederhana adalah budaya kerja yang membuat orang-orang bergerak lebih cepat dan agresif.

Fenomena ini dapat dilihat pada kalangan muda saat ini. Karena banyak postingan motivasi di sosial media untuk meraih mimpi, cita-cita dan kebutuhan hidup semakin tinggi. Dorongan ini membuat beberapa orang mengharapkan cara instan untuk meraih tujuan mereka. Sayangnya, budaya hustle culture dapat merusak pola pemikiran pekerja yang dapat mengganggu kesehatan bahkan psikologis.

Ciri-ciri hustle culture sudah ditemukan ketika berada di sekolah dengan mengikuti les atau kursus tambahan. Untuk mahasiswa, mengikuti beberapa ekstrakulikuler dan organisasi mahasiswa untuk menambah relasi. Begitu pun di dunia pekerjaan yang biasa ditemukan ketika salah satu rekan kita merasa bangga bekerja sampai lembur.

Penyebab hustle culture adalah adanya dorongan untuk memiliki pendapatan secara cepat dalam budaya kerja. Hal ini disebabkan karena konstruksi sosial yang masih ada di lingkungan saat ini, misalnya cepatnya naik jabatan akan memudahkan seseorang untuk menambah uang. Selain itu juga, mudahnya akses teknologi saat ini, salah satunya ponsel yang semakin canggih dapat digunakan untuk bekerja dengan fleksibel. 

Adanya sosial media juga menyebabkan budaya hustle culture ini dianggap lumrah untuk beberapa individu bekerja lebih keras dan munculnya glorifying hustle culture yang membuat seseorang merasa buruk jika tidak bekerja lebih keras. Tekanan pekerjaan yang mengakibatkan stress secara perlahan dianggap acuan positif untuk beberapa orang atas usaha pekerjaannya.

Dampak Negatif Hustle Culture

Kita sering mendengar kutipan motivasi seperti, “hard works, pays off” atau “no pain no gain” sebagai dorongan motivasi untuk menjadi sukses dalam pekerjaan. Munculnya apa itu hustle culture yang kini menjadi gaya hidup pekerja memberikan dampak negatif diantaranya:

1. Risiko Penyakit Tinggi

Pada sebuah penelitian dalam Current Cardiology Reports tahun 2018 mengambil sampel subjek pekerja Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Penelitian itu menemukan bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu berisiko untuk terkena penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular seperti infark miokard (serangan jantung) dan jantung koroner. 

Dari penelitian ini disimpulkan bahwa jam kerja yang panjang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivitas psikologis yang berlebihan dan stress. Selain itu, bekerja berlebihan dapat meningkatkan resisten insulin, hiperkoagulasi, diabetes hingga stroke.

2. Terganggunya Kesehatan Mental

Kelelahan akibat bekerja keras tanpa istirahat dalam budaya hustle culture juga dapat mengganggu kesehatan mental. Beberapa gejala yang bisa ditimbulkan dari apa itu hustle culture adalah depresi, kecemasan, hingga kecenderungan untuk punya pikiran bunuh diri. Kondisi ini disebabkan karena memaksakan diri untuk terus mencapai kesuksesan. Saat stres terus-menerus, tubuh akan melepaskan hormon stres kortisol dalam jumlah yang tinggi dan untuk periode yang lebih lama.

Selain itu, jika stres berkepanjangan tidak segera teratasi, hal ini akan membuat performa kerja menurun dan mengalami burnout syndrome yang menyebabkan pekerja merasa pesimis dengan tugasnya. Hal tersebut membuat energi dan motivasi individu yang bekerja terkuras karena merasa tidak berhasil memenuhi ekspektasi kerja. 

3. Merusak Work-Life Balance

Untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi memang bukan hal yang mudah, apalagi hustle culture sudah dianggap lumrah dan sebuah gaya hidup. Jika demikian hal ini tentu merusak keseimbangan antara diri kita dengan pekerjaan. Kesadaran mengenai bahaya hustle culture dapat diatasi dengan bersikap realistis dan fleksibel ketika mengevaluasi tujuan dan prioritas tiap individu. 

Kesehatan adalah aspek fisik, emosional, dan mental yang membantu produktivitas kita. Begitu juga dengan bersosialisasi, karena selain lingkungan kerja, pergaulan di luar pekerjaan mampu mendukung juga memengaruhi performa dan potensi yang baik. Jika tekanan pekerjaan tersebut sudah mengganggu ritme ranah pribadi, maka ritme yang lain pun akan rusak, dan membuat kehidupan sosialisasi juga pun buruk.

Cara Mengatasi Hustle Culture

Jika kita sudah terjebak dalam fenomena ini, maka risiko buruk bagi kesehatan akan meningkat. Selain risiko buruk seperti burnout, hustle culture juga bisa menyebabkan kondisi kelelahan berlebihan, bahkan hingga kematian. Hal yang perlu diterapkan pada pola pikir kita adalah kesuksesan tidak harus merusak diri kita sendiri dengan bekerja berlebihan. 

1. Mengubah Pola Pikir

Untuk terhindar dari apa itu hustle culture adalah mengetahui batasan diri kita sendiri. Bekerja semampu kita dengan hasil memuaskan, jika kita sudah mampu bekerja semampu kita, maka hargai hasil yang sudah dicapai oleh usaha diri sendiri. Jika hasilnya kurang memuaskan, jangan jadikan hal ini sebagai permasalahan. Tanpa kesalahan seseorang tidak akan belajar, selain itu juga pencapaian tersebut patut kita syukuri karena kita masih bekerja dalam keadaan sehat baik fisik, emosional dan mental.

Selain itu, hindari membandingkan diri kita dengan rekan, teman, atau saudara kita sendiri karena membandingkan diri dengan orang lain menjadi salah satu penyebab munculnya apa itu hustle culture. Tentu siapa pun ingin menjadi sukses dan mapan dalam bidang yang digelutinya. 

2. Utamakan Diri Sendiri

Kutipan sehat adalah mahal rasanya terdengar pas untuk kita menyadarkan diri ketika terjebak dalam budaya hustle culture. Untuk mendapatkan hasil terbaik tentu juga dibutuhkan proses yang baik, salah satunya menjaga kesehatan. Jika kita hidup untuk bekerja tanpa istirahat, tidak berolahraga, bahkan meninggalkan kehidupan sosial, maka kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu. 

Bersantai di waktu libur atau cuti sejenak untuk terbebas dari pekerjaan mampu membantu kita menenangkan diri dan melakukan aktivitas yang baru untuk menstimulasi produksi hormon endorphin. Hormon ini nantinya akan memunculkan perasaan nyaman dan bahagia. Selain itu, kita dapat mengurangi diri dari kehidupan sosial media untuk membantu kita keluar dari gaya hidup hustle culture dengan belajar hal-hal baru, melakukan hobi yang menyenangkan dan istirahat secukupnya. 

3. Melakukan Aktivitas di Luar Pekerjaan

Pekerjaan memang dapat menstimulasi aktivitas kognitif pada otak, tetapi jika hal tersebut dilakukan berlebihan dapat menyebabkan stress, kelelahan, dan kerusakan kognitif otak. Mencari hobi di luar pekerjaan juga mampu mengatasi kita dari budaya hustle culture tersebut. Hal ini lumrah dikenal sebagai work life balance dalam budaya kerja. Selain mencegah stress setelah terpapar tekanan pekerjaan, memanfaatkan waktu untuk hobi atau belajar hal-hal baru dapat membantu efektivitas dan produktivitas setiap individu dalam bekerja. 

Menambah Penghasilan Tanpa Lembur dan Bebas dari Budaya Hustle Culture

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hustle culture memberikan dampak negatif pada diri kita. Memang dalam hidup ini, kita semua memiliki tujuan, salah satu contohnya adalah bekerja untuk menambah penghasilan dengan lembur. Sayangnya, kita tidak bisa bekerja lembur setiap hari.

Salah satu cara terhindar dari hustle culture ini adalah dengan memulai berinvestasi. Kenapa dengan berinvestasi? Karena dengan keuntungan yang didapatkan dari investasi, kita bisa membatasi diri kita untuk tidak bekerja terlalu keras secara terus menerus. Ditambah lagi, kita juga bisa menabung keuntungan dari investasi kita untuk hari yang akan datang.

Sebagai contoh, kita memilih untuk investasi bisnis potensial lewat aplikasi securities crowdfunding. Bagi pekerja securities crowdfunding bisa menjadi opsi investasi membutuhkan modal yang kecil. Lewat skema securities crowdfunding, kamu bisa memilih project bisnis potensial setelah menyesuaikan profil risiko dan estimasi keuntungan yang diinginkan.

Kamu bisa mengalokasikan sebagian gaji pokok untuk berinvestasi agar mendapatkan keuntungan yang bisa ditabung. Dengan menabung secara rutin, maka impian untuk segera meraih kebebasan finansial dan meninggalkan hustle culture tentu bisa diwujudkan. 

Karena itu, tunggu apalagi…..

Yuk, Investasi Lewat LandX untuk Menambah Penghasilan Kamu di Masa Depan Nanti!

Bagaimana? Kamu lebih suka bisnis dengan buyback guarantee atau yang bisa disimpan dalam jangka panjang? Apapun pilihan kamu.. Yuk Patungan  dengan Keuntungan Menjanjikan Bareng LandX

Baca Juga