menu-button
Cara Investasi di Securities Crowdfunding Investasi Keuangan Bisnis

Apa Itu Revenge Spending? Kenali Dampak dan Cara Menghindarinya!

Wednesday, 21 Sep 2022

Read in 6 minutes

Author: Della Octavilia
Memahami apa itu revenge spending dan dampaknya

Salah satu dampak dari Pandemi Covid-19 adalah muncul fenomena revenge spending. Apa itu revenge spending adalah fenomena orang-orang yang berbelanja melebihi dari kapasitas biasanya. Yuk, pelajari!

Apa itu revenge spending? Revenge spending adalah fenomena ekonomi yang muncul akibat dari efek Pandemi Covid-19. Revenge spending adalah fenomena orang-orang yang berbelanja melebihi dari kapasitas biasanya.

Penyebab revenge spending yang membuat seseorang berbelanja di luar batasnya karena sebagai kompensasi atas ketertundaan keinginan berbelanjanya selama karantina yang berkepanjangan.

Pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia sejak tahun 2020 inilah yang menyebabkan orang-orang melakukan revenge spending. Karena dengan revenge spending, mereka dapat mewujudkan keinginannya yang selama pandemi ini tertunda. 

Namun, saat revenge spending dilakukan tanpa adanya perencanaan yang detail, hal ini bisa menyebabkan seseorang melakukan impulsive buying

Dalam artikel ini kita akan membahas seputar revenge spending, mulai dari apa itu revenge spending, hingga cara menghindari revenge spending yang berlebihan agar tetap terkontrol.

Jadi ikuti terus artikel in, ya!

Apa Itu Revenge Spending?

Kita ketahui bahwa sejak tahun 2020 hingga saat ini dunia sedang dilanda Pandemi Covid-19.  Efek dari Pandemi Covid-19 sendiri membuat segala aktivitas yang biasanya dilakukan di luar rumah menjdai dilakukan di dalam rumah untuk mencegah penularan virus.

Tak heran, dari pandemi ini banyak membuat orang-orang jenuh dan stress karena aktivitasnya menjadi sangat terbatas.  

Tapi, pernah gak kamu selama pandemi berlangsung sudah menyusun perencanaan akan hal-hal yang harus dilakukan saat pandemi berakhir? Misalnya nongkrong di kafe, nonton langsung di bioskop, perawatan rambut di salon,  jalan-jalan keluar kota, hingga shopping.

Kalau kamu menjadi salah satu orang yang membayangkan rencana-rencana yang harus dilakukan saat pandemi berakhir, maka kamu sedang terkena “quaran-dream” atau kamu kenalnya dengan kata “ngehalu.” 

Nah, dengan adanya “quaran-dream” atau “ngehalu” ini nantinya saat Pandemi Covid-19 mereda atau hilang, diprediksi akan muncul fenomena baru di masyarakat yang bernama revenge spending. Apa itu revenge spending?

 

Menurut dari laman OJK, revenge spending adalah fenomena ekonomi yang muncul di mana orang-orang berbelanja melebihi dari kapasitas biasanya untuk mengompensasi keinginan belanja mereka yang tertunda selama karantina yang berkepanjangan.

Loh, bukannya saat pandemi belanja juga tetap bisa dilakukan secara online ya? Ya, benar memang belanja tetap bisa dilakukan saat pandemi. Namun, sensasi dari belanja secara online dan langsung datang ke tokonya itu sangat berbeda, apalagi bagi orang yang memiliki hobi belanja.

Saat berbelanja langsung di tokonya, kamu bisa memilih barang lebih leluasa, dan bisa langsung mencobanya. Sensasi ini yang tidak bisa dirasakan saat kamu berbelanja secara online.

Fenomena revenge spending ini pun dapat kita lihat di pusat perbelanjaan saat ini. Karena efek Pandemi Covid-19 yang kian menurun membuat pusat perbelanjaan saat ini sudah mulai ramai, tidak, malah sudah sangat ramai.

Banyak  masyarakat yang berbondong-bondong mendatangi pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Nah untuk menarik pembeli, pusat perbelanjaan pun menawarkan berbagai promo. Dengan begitu, antusias publik untuk berbelanja menjadi jauh lebih besar lagi dengan adanya promo.

Jika fenomena revenge shopping terjadi tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu pada seseorang, maka nantinya seseorang tersebut akan menjadi impulsive buying. Pada kondisi ini, seseorang tidak akan berpikir panjang dalam melakukan pembelian suatu barang.

Kalau seseorang sampai impulsive buying juga, maka nanti dapat mengganggu kondisi keuangannya.

Contoh Revenge Spending

Penyebab revenge spending terjadi karena adanya Pandemi Covid-19 yang membuat keinginan berbelanja seseorang jadi tertunda. Contoh revenge spending dapat dilihat pada negara Cina.

Cina yang merupakan episentrum awal dari pandemi Covid-19 telah kembali membuka pusat perbelanjaan dan toko retail yang selama ini tutup akibat pandemi. Saat dibuka kembali, banyak toko retail yang menjual produk-produk branded di Cina mengalami peningkatan penjualan yang signifikan.

Salah satu contohnya terjadi pada toko Hermes di Guangzhou telah mencatatkan penjualan sebesar 2,7 juta US dollar di hari pertama pembukaannya kembali. Toko produk branded lainnya di Cina, seperti Adidas, Louis Vuitton, Nike,Prada, juga mengalami peningkatan penjualan yang signifikan.

Nah, itulah salah satu contoh dari fenomena revenge shopping yang terjadi di Cina.

Dampak Revenge Spending

Tentu adanya fenomena revenge spending pasti akan memberikan dampak pada diri seseorang. Dampak dari fenomena revenge spending adalah seseorang menjadi impulsive buying

Impulsive buying adalah seseorang yang melakukan pembelian secara tiba-tiba dan tidak terencana saat melihat suatu barang atau jasa. 

Jika seseorang terkena impulsive buying, maka ia sudah tidak melihat barang berdasarkan value tetapi berdasarkan keinginan saja, hal ini membuat belanjaannya menjadi overbudget.

Lalu, selanjutnya bisa mengganggu kondisi keuangan dari seseorang yang melakukan impulsive buying.

Cara Menghindari Revenge Spending

Merujuk dari lama OJK, terdapat lima cara menghindari revenge spending, yaitu:

1. Tentukan Budget

Cara menghindari revenge spending after Covid yang pertama adalah dengan menentukan budget yang akan digunakan. Saat pandemi berakhir atau mereda dan pusat perbelanjaan kembali dibuka, kamu boleh kok untuk berbelanja.

Namun, alangkah lebih baik sebelum kamu belanja tentukan dulu besaran budget yang akan kamu keluarkan untuk berbelanja. Budget yang akan kamu keluarkan adalah pendapatan berlebih dari pengeluaran rutin selama pandemi.

Ingat, budget yang akan digunakan tidak boleh mengganggu dana tabungan maupun investasi kamu ya!

2. Lebih Mementingkan Kebutuhan daripada Keinginan

Ingat, dengan dibukanya kembali pusat perbelanjaan bukan berarti kamu akan berbelanja sesuka hati dan sesuai keinginanmu ya! Saat berbelanja pentingkan kebutuhan daripada keinginan.

Karena mengikuti keinginan pasti tidak akan ada habisnya, jadi dahulukan barang yang memang sedang dibutuhkan dan tahan untuk membeli barang yang memang tidak diperlukan. Nantinya barang-barang tersebut tidak terpakai dan hanya memenuhi ruang di rumah kamu saja. 

3. Buat Daftar Belanja yang Ingin Dipenuhi Saat Pandemi Usai

Dengan membuat to do list atau to buy list, nantinya kamu dapat menghindari revenge spending. Kamu bisa membuat list barang–barang yang sedang kamu butuhkan dalam menunjang kehidupan sehari-harimu.

4. Hindari Pengunaaan Credit Card atau Store Card

Ingat, saat berbelanja setelah pandemi hindari menggunakan credit card atau store card. Nanti bisa saja saat berbelanja kamu tidak terkontrol dan kalap karena banyaknya barang yang kamu inginkan.

Untuk menghindarinya, kamu bisa menggunakan uang tunai, e-wallet, ataupun debit card yang sudah kamu persiapkan untuk berbelanja.

5. Kontrol Belanja dengan Menyimpan Struk dan Catatan

Untuk mengontrol belanja, lebih baik kamu menyimpan struk hasil belanja yang kamu lakukan dan buat catatan sederhananya. Dengan kamu menyimpan struk dan melakukan pencatatan, kedepannya bisa menjadi acuan kamu saat berbelanja agar tidak berlebihan dan masih sesuai porsinya.

Bijak Kelola Keuangan dengan Investasi Berpotensi

Nah, kita telah membahas seputar revenge spending. Setelah mengetahui revenge spending, apa kamu merupakan salah satu orang yang terkena fenomena ini? Berapa banyak dana yang kamu keluarkan akibat dari revenge spending ini? 

Memang, berbelanja langsung di pusat perbelanjaan saat Covid-19 mereda boleh dilakukan asalkan kamu tahu batasannya. Sebelum kamu memutuskan untuk berbelanja, lihat kondisi keuangan terlebih dahulu, lalu susun perencanaan untuk barang apa yang dibeli.

Hal ini untuk menghindari overbudget dan kamu menjadi impulsive buying.

Oiya, daripada kamu melakukan revenge spending yang bisa membuat banyak dana terkuras, kamu bisa lho mengalokasikan dana kamu dengan berinvestasi yang berpotensi memberikan keuntungan di masa mendatang.

Salah satu investasi yang dapat kamu lakukan adalah investasi dengan sistem equity crowdfunding. 

Melalui equity crowdfunding kamu akan mendanai salah satu bisnis UMKM berpotensi secara patungan bersama beberapa investor lainnya. Selanjutnya setelah dana terkumpul, kamu berkesempatan untuk memperoleh keuntungan berupa dividen dari bisnis yang didanai.

Banyak sekali bisnis UMKM berpotensi diluar sana yang bisa kamu danai dan kamu akan menjadi salah satu pemilik bisnis berpotensi tersebut.

LandX merupakan platform equity crowdfunding yang telah memiliki market cap terbesar se Indonesia, terpercaya, dan telah mengantongi izin dari OJK. Di LandX kamu bisa mendanai berbagai industri bisnis UMKM berpotensi, mulai bisnis properti hingga bisnis kuliner.

Kamu pun bisa memulai pendanaan di LandX dengan modal kecil, lho mulai dari Rp1 jutaan saja! 

Jadi, tunggu apa lagi? 

Download Aplikasi LandX dan Danai Bisnis Berpotensi Cuan Sekarang Juga!