Dalam beberapa waktu belakangan,  Auto Reject Atas (ARA) dan Auto Reject Bawah (ARB) merupakan istilah yang sangat sering kamu dengar terutama apabila anda merupakan investor saham.

Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Bukalapak yang IPO baru-baru ini dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Agustus lalu dan mengalami ARA karena masih melonjaknya peminat dari saham ini.

ARA dan ARB merupakan istilah yang akan sering anda temui apabila anda terjun ke dunia saham sebagai investor maupun trader. Oleh sebab itu mari kita pelajari istilah ini secara lebih lanjut agar mempermudah anda saat memasuki dunia investasi saham.

Table of Content

ARA (Auto Reject Atas) dalam Saham

Auto Reject Atas (ARA) adalah batas kenaikan harga tertinggi dari saham. Artinya, pergerakan harga saham di pasar modal tidak bisa bergerak bebas melewati batas yang sudah ditentukan. ARA menjadi acuan untuk mengatur pergerakan saham sehingga ada batas kenaikan suatu saham dalam satu hari.

Batas atas kenaikan harga saham atau ARA mengatur berapa persen kenaikan maksimal dari suatu saham dalam satu hari. Berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 berikut aturan ARA suatu saham:

Aturan ARA berdasarkan Kep-00023/BEI/03-2020 

Berdasarkan aturan ini, maka kita bisa melihat bahwa batas kenaikan maksimal saham berbeda-beda tergantung dengan harga dari suatu saham.

Biasanya, saham yang baru IPO atau go-public seringkali mengalami ARA karena banyak orang ingin memiliki saham tersebut pada saat penawaran perdana di mana harga saham cenderung masih murah.

Contohnya adalah saham Bukalapak yang baru resmi tercatat di BEi dengan harga Rp 850 telah mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam selang 3 hari hingga menyentuh harga Rp 1.325 pada hari ini (9/8) yang menyebabkan saham ini ARA.

Karena saham ini berapa pada kisaran harga Rp 200 s/d 5000 maka batas kenaikannya adalah 25%.

Akan tetapi, batas ini bisa menjadi lebih besar khusus untuk pada hari pertama suatu saham diperdagangkan di BEI yang membuat banyak saham yang baru IPO mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada hari pertama.

Seperti yang kita tahu, kenaikan signifikan ini bisa terjadi karena berbagai hal seperti akuisisi atau merger yang menyebabkan sentimen positif terhadap suatu saham.

Kalau ARA merupakan kenaikan harga yang menguntungkan para investor, maka selanjutnya mari kita bahas ARB atau Auto Reject Bawah yang perhatian penting juga bagi para investor.

ARB (Auto Reject Bawah) dalam Saham

ARB adalah Auto Reject Bawah yang artinya berkebalikan dengan ARA yang sudah kita bahas sebelumnya. ARB merupakan batas penurunan maksimum dari suatu saham dalam satu hari, dengan kata lain ARB merupakan batas bawah penurunan saham harga saham dalam satu hari.

Batas ARB saham sendiri mengalami beberapa perubahan dalam beberapa waktu belakangan, sebelum pandemi batas ARB maksimum adalah 20% s/d 35% dan berubah menjadi 10% pada masa awal pandemi Maret 2020 lalu. Akan tetapi, aturan ini mengalami perubahan lagi sehingga penurunan maksimum dari saham adalah 7%.

Keputusan ini diambil karena pandemi membuat banyak sekali saham mengalami penurunan yang cukup signifikan sehingga BEI membentuk kebijakan baru. Berikut ketentuan ARB berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020:

Ketentuan ARB berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020

Berdasarkan aturan ini, maka kita bisa melihat bahwa nilai terendah dari saham adalah Rp50 dan tidak akan turun lagi apabila sudah mencapai titik ini. Saham yang sudah mencapai titik ini cenderung akan sulit dijual karena sudah tidak diminati lagi oleh para investor.

Walaupun saham Bukalapak (BUKA) mengalami kenaikan harga pada hari sebelumnya (9/8), namun pada hari ini (10/8) saham ini mengalami ARB hingga menyentuh harga Rp 1.035 (-6,76%).

Pentingnya ARA dan ARB

Dalam investasi saham kita tahu bahwa pergerakan harga dapat naik maupun turun, hal ini tentu saja menimbulkan peluang dan risiko tersendiri bagi investor. ARA dan ARB merupakan salah satu aturan yang ditujukan untuk membatasi pergerakan saham.

Untuk investor yang masih baru memasuki dunia saham, anda sebaiknya menghindari saham-saham dengan tingkat fluktuasi cukup tinggi mengingat anda masih memiliki keterbatasan kemampuan dan pengetahuan terhadap saham tersebut.

Kesimpulan

Menentukan saham terbaik untuk investasi anda tentu saja bukanlah hal yang mudah, oleh sebab itu anda perlu melakukan evaluasi dan mempelajari lebih lanjut terkait seluk beluk dunia saham.

Untuk pemula yang baru memulai investasi, anda bisa mulai dengan investasi yang lebih mudah dianalisis seperti investasi ke dalam bisnis yang skalanya lebih kecil dan familiar bagi anda. Karena sebagai sebagai pemula anda harus mulai dengan sesuatu yang anda pahami dengan baik terlebih dahulu.

Tapi anda harus tahu bahwa sekarang anda investasi yang mudah dan cocok untuk pemula yaitu Equity Crowdfunding (ECF)  yang konsepnya hampir sama dengan investasi saham.

Karena anda akan mendapatkan bagian kepemilikan dari sebuah bisnis yang sudah anda danai dan bisa mendapatkan dividen dari keuntungan bisnis tersebut. Kalau anda mau investasi bisnis jangka panjang dengan modal kecil….

Yuk Investasi Bisnis Jangka Panjang Dengan Modal Kecil Bersama LandX.

Yuk Follow Instagram @landx.id Untuk Berbagai Info Menarik Seputar Keuangan Lainnya

#LandX.id    #landx.id    #InvestasiBisnis    #EquityCrowdfunding    #InvestasiMenguntungkan    #Urundana    #BisnisPatungan    #InvestasiUsaha

Baca Juga: