menu-button
Cara Investasi di Securities Crowdfunding Investasi Keuangan Bisnis

Memahami Apa Itu ARA dan ARB dalam Saham yang Penting Bagi Pemula

Tuesday, 2 Aug 2022

Read in 6 minutes

Author: Abdul Wahhab
Memahami konsep ARA saham dan ARB saham

ARA dan ARB saham adalah istilah penting dalam dunia investasi yang harus Anda pahami. Oleh karena itu, mari kita bahas tentang apa itu ARA dan ARB saham.

Pada tahun 2021, ARA dan ARB merupakan istilah yang sangat sering terdengar terutama apabila Anda merupakan investor saham.

Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Bukalapak yang melakukan IPO dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Agustus 2021 lalu dan mengalami ARA melonjaknya peminat dari saham perusahaan teknologi ini.

ARA dan ARB merupakan istilah yang akan sering Anda temui apabila terjun ke dunia investasi saham sebagai investor maupun trader. Oleh sebab itu, mari kita pelajari istilah investasi ini secara lebih lanjut agar mempermudah Anda saat memasuki dunia investasi saham.


ARA Saham

Auto Reject Atas (ARA) adalah persentase batas kenaikan harga tertinggi dari saham. Artinya, pergerakan harga saham di pasar modal tidak bisa bergerak bebas lebih tinggi melewati batas yang sudah ditentukan. ARA menjadi acuan untuk mengatur pergerakan saham sehingga ada batas kenaikan suatu saham dalam satu hari.

Batas ARA saham mengatur berapa persen kenaikan maksimal dari suatu saham dalam satu hari. Berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 berikut aturan batas ARA saham:

Aturan ARA saham 2020

Aturan ARA saham sesuai dengan ketentuan BEI.

Berdasarkan aturan ini, maka kita bisa melihat bahwa batas kenaikan maksimal saham berbeda-beda tergantung dengan harga dari suatu saham.

Biasanya saham yang baru IPO atau go-public seringkali mengalami ARA karena banyak orang ingin memiliki saham tersebut pada saat penawaran perdana di mana harga saham cenderung masih murah.

Contoh ARA saham adalah saham Bukalapak (BUKA) yang baru resmi tercatat di BEI dengan harga Rp 850 telah mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam selang 3 hari hingga menyentuh harga Rp 1.325 yang menyebabkan saham ini ARA.

Karena saham BUKA berapa pada kisaran harga Rp 200 s/d 5000 maka batas kenaikannya adalah 25%.

Akan tetapi, batas ARA bisa menjadi lebih besar khusus untuk pada hari pertama suatu saham diperdagangkan di BEI yang membuat banyak saham yang baru IPO mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada hari pertama.

Seperti yang kita tahu, kenaikan signifikan harga saham bisa terjadi karena berbagai hal seperti, akuisisi atau merger yang menyebabkan sentimen positif terhadap suatu saham.

Kalau ARA saham merupakan kenaikan harga yang menguntungkan para investor, maka selanjutnya mari kita bahas ARB atau auto reject bawah yang penting diperhatikan juga bagi para investor.

ARB Saham

Kondisi Auto Reject Bawah (ARB) merupakan kebalikan dari ARA yang sudah kita bahas sebelumnya.

ARB adalah persentase batas penurunan maksimum dari suatu saham dalam satu hari. Dengan kata lain ARB saham artinya batas terbawah harga saham dalam satu hari perdagangan.

Batas ARB saham sendiri mengalami beberapa perubahan dalam beberapa waktu belakangan. Sebelum pandemi maksimal ARB saham adalah 20% s/d 35% dan berubah menjadi 10% pada masa awal pandemi Maret 2020 lalu. Akan tetapi, aturan ini mengalami perubahan lagi sehingga penurunan maksimum dari saham yang ditetapkan BEI periode 2020 adalah 7%.

Keputusan ini diambil karena pandemi membuat banyak sekali saham mengalami penurunan yang cukup signifikan sehingga BEI membentuk kebijakan baru. Berikut ketentuan ARB saham berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020:

ketentuan-ARB atau auto reject bawah)-berdasarkan-keputusan-direksi-bursa-efek-indonesia-nomor-Kep-00023-BEI-02-2020-1

Berdasarkan aturan ini, maka kita bisa melihat bahwa nilai terendah dari saham adalah Rp50 dan tidak akan turun lagi apabila sudah mencapai titik ini. Saham yang sudah mencapai titik ini cenderung akan sulit dijual karena sudah tidak diminati lagi oleh para investor.

Walaupun saham Bukalapak (BUKA) mengalami kenaikan harga pada hari sebelumnya (9/8) namun, pada hari berikutnya (10/8) saham ini mengalami ARB hingga menyentuh harga Rp 1.035 (-6,76%).

Begini Alasan Saham Bisa ARA dan ARB

Terdapat banyak faktor yang memengaruhi volatilitas suatu emiten sehingga memunculkan ciri-ciri saham ARA dan ARB. Pada tahun geliat pandemi 2020, sempat bermunculan sentimen-sentimen positif yang membuat sektor-sektor di IHSG diguyur kondisi ARA. 

Beberapa penyebab ARA saham pada periode tersebut yaitu:

  • Kabar baik ditemukannya vaksin covid-19 
  • Rencana pengembangan proyek baterai mobil listrik
  • Dibentuknya Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau dikenal juga sebagai Sovereign Wealth Fund. Lembaga Pengelola Investasi adalah badan yang terbentuk melalui Peraturan Pemerintah yang berwenang mengelola investasi pemerintah pusat. 

Berbagai kondisi ini membuat saham sektor farmasi, konstruksi serta batu bara ramai menyentuh harga tertinggi. Namun, pada awal tahun 2021 terjadi kelongsoran harga saham sehingga menyentuh ARB berjamaah. Dikabarkan CNBC, sempat terjadi 83 saham ARB dalam satu hari perdagangan.

Penyebab saham ARB pada periode tersebut yaitu:

  • Aksi Profit Taking 

    Tindakan profit taking pada kondisi saham tinggi tentu saja normal terjadi karena para investor dan trader ingin mendapatkan keuntungan. Tetapi, ternyata transaksi-transaksi penjualan ini membuat saham menjadi terkoreksi atau turun.

  • Banyak Investor Ritel Baru 

    Bermunculan investor pemula yang minim ilmu investasi dan hanya terbawa ikut-ikutan rekomendasi influencer. Saat diberi rekomendasi mereka buru-buru ikut membeli dan saat influencer tidak memberi rekomendasi maka mereka segera jual kembali. Tindakan ini berpengaruh pada tingkat harga saham keseluruhan, karena itu penting untuk tidak FOMO sebagai investor pemula.

  • Transaksi dengan Trading Limit 

    Trading limit adalah fasilitas pinjaman dari sekuritas kepada nasabah untuk membeli saham. Dikarenakan banyak bermunculan investor dan trader minim ilmu investasi, di saat terjadi kenaikan harga saham maka mereka akan membeli saham secara banyak namun terbatas ketersediaan dana RDN sehingga mengajukan pinjaman Trading Limit (TL).

    Pinjaman berarti uang yang harus dikembalikan. Apalah daya bila yang terjadi malah ARB setelah pembelian, sehingga para investor ini tidak mampu membayarkan pinjaman. Perusahaan sekuritas pun menetapkan tindakan jual-paksa (forced sell) saham yang berpengaruh pada harga saham terkait.

  • Kebijakan Auto Reject Asimetris

    Bursa Efek sempat mengeluarkan kebijakan persentase auto reject yang tidak sama atau asimetris. Seperti kejadian pada batas ARA dan ARB saham tahun 2020 yang diberlakukannya ARA senilai 35% sedangkan batas ARB adalah 7% saja.

Batas ARA dan ARB Saham Tahun 2022

Kita ulas singkat kembali, ARA adalah suatu kondisi kenaikan harga saham menyentuh harga maksimal dan tidak bisa naik lagi di hari tersebut. ARB adalah suatu kondisi harga saham menyentuh harga terendah maksimal dan tidak dapat turun lagi. Batas maksimal ARA dan ARB ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia.

Jika batas ARA dan ARB saham tahun 2020 adalah 35% ARA dan maksimal 7% ARB, tidak sama tingkat persentasenya atau asimetris. Diketahui batas ARA dan ARB saham tahun 2022 sedang dipertimbangkan untuk kembali simetris, sehingga dikabarkan saham dapat anjlok hingga 35%. Namun hal ini perlu menunggu keputusan lebih lanjut setelah penilaian dari Bursa Efek dan OJK.

Bisakah Menjual Saham Saat ARB?

Saat ARB terjadi, maka transaksi untuk saham tersebut akan dibatasi sehingga transaksi jual beli saham yang sedang dalam kondisi ini tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, saat ARB terjadi Anda tidak bisa melakukan transaksi pada saham tersebut.

Pentingnya ARA dan ARB

Dalam investasi saham kita tahu bahwa pergerakan harga dapat naik maupun turun, hal ini tentu saja menimbulkan peluang dan risiko tersendiri bagi investor. ARA dan ARB merupakan salah satu aturan yang ditujukan untuk membatasi pergerakan saham.

Untuk investor yang masih baru memasuki dunia saham, anda sebaiknya menghindari saham-saham dengan tingkat fluktuasi cukup tinggi mengingat anda masih memiliki keterbatasan kemampuan dan pengetahuan terhadap saham tersebut.

Kesimpulan

Menentukan saham terbaik untuk investasi Anda tentu saja bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu, Anda perlu melakukan evaluasi dan mempelajari lebih lanjut terkait seluk beluk dunia investasi saham.

Untuk pemula yang baru memulai investasi, Anda bisa mulai dengan investasi yang lebih mudah dianalisis seperti investasi ke dalam bisnis yang skalanya lebih kecil dan familiar bagi Anda. Karena sebagai sebagai pemula, Anda harus mulai dengan sesuatu yang Anda pahami dengan baik terlebih dahulu.

Anda harus tahu bahwa sekarang ada investasi yang mudah dan cocok untuk pemula yaitu Equity Crowdfunding (ECF)yang konsepnya hampir sama dengan investasi saham.

Karena Anda akan memiliki kepemilikan saham dari sebuah bisnis maka berkesempatan mendapatkan dividen dari keuntungan bisnis tersebut. Kalau Anda tertarik investasi bisnis jangka panjang dengan modal kecil….

Yuk Investasi Bisnis Jangka Panjang Dengan Modal Kecil Bersama LandX.

Yuk Follow Instagram @landx.id Untuk Berbagai Info Menarik Seputar Keuangan Lainnya

#LandX.id #landx.id #InvestasiBisnis #EquityCrowdfunding #InvestasiMenguntungkan #Urundana #BisnisPatungan #InvestasiUsaha

Baca Juga:

Baca Juga