menu-button
Cara Investasi di Securities Crowdfunding Investasi Keuangan Bisnis

Asuransi Syariah: Memahami Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Tuesday, 13 Sep 2022

Read in 9 minutes

Author: Della Octavilia
Memahami perbedaan asuransi syariah dan konvensional

Apa itu perbedaan asuransi syariah dan konvensional? Asuransi syariah adalah asuransi yang berprinsip saling tolong-menolong antar sesama peserta asuransi berdasar dengan syariah islam.

Pengertian asuransi syariah adalah usaha tolong-menolong dan saling melindungi di antara sejumlah orang atau pihak yang prinsip hukumnya sesuai dengan syariat islam. Menggunakan asuransi syariah sendiri tidak bermaksud untuk mendahului takdir, namun diniatkan sebagai ikhtiar persiapan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya risiko di masa mendatang.

Asuransi syariah sendiri berbeda dengan asuransi konvensional. Perbedaan asuransi syariah dan konvensional sudah dapat dilihat prinsip dasarnya, di mana prinsip asuransi syariah adalah untuk saling menolong antara pihak yang berada dalam asuransi syariah. 

Sedangkan prinsip asuransi konvensional adalah kontrak pertanggungan antara perusahaan asuransi pada peserta asuransi.

Kali ini kita akan membahas lebih detail seputar asuransi syariah, mulai dari pengertian asuransi syariah, tujuan asuransi syariah, produk asuransi syariah, hingga perbedaan asuransi syariah dan konvensional.

Jadi ikuti terus artikel ini, ya!

Asuransi Syariah Adalah

Mungkin kita tidak akan mengetahui peristiwa apa yang bisa menimpa kita di masa mendatang. Berbagai risiko yang tidak dapat diprediksi bisa saja menimpa kita, seperti mengalami ancaman kesehatan misalnya. 

Oleh karena itu, kita membutuhkan persiapan dana untuk menghadapi peristiwa darurat yang dapat terjadi kapanpun itu. Salah satu persiapan dana yang bisa kita persiapkan adalah dengan membeli asuransi. 

Penggunaan asuransi sendiri tidak bermaksud untuk mendahului takdir, namun asuransi diniatkan sebagai ikhtiar untuk persiapan menghadapi segala kemungkinan terjadinya risiko.

Salah satu produk asuransi yang dapat kamu gunakan dan sesuai dengan syariat islam adalah asuransi syariah. Lalu, apa itu asuransi syariah?

Merujuk dari laman OJK, pengertian asuransi syariah adalah usaha tolong-menolong dan saling melindungi diantara para peserta yang penerapan dan prinsip hukumnya sesuai syariat islam. 

Sedangkan menurut fatwa, asuransi syariah adalah usaha untuk saling membantu dan berbagi di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru.

Dalam asuransi syariah terdapat konsep tolong-menolong dan bekerja sama mengumpulkan dana hibah yang nantinya dapat digunakan untuk menolong salah satu peserta asuransi yang terkena risiko.

Oleh karena itu, asuransi syariah memiliki prinsip pengelolaan risiko berupa sharing of risk atau berbagi risiko. Artinya, risiko akan ditanggung bersama semua peserta asuransi syariah.

Jelas, hal ini sangat berbeda dengan asuransi konvensional yang pengelolaan risikonya hanya dibebankan kepada perusahaan atau transfer of risk. Jadi, bisa dibilang asuransi syariah ini selain untuk pribadi, memiliki prinsip untuk saling tolong-menolong antar sesama peserta asuransi.

Tujuan Asuransi Syariah

Tujuan asuransi syariah bukanlah untuk memperoleh laba yang besar, melainkan tujuan asuransi syariah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan perjuangan umat Islam dengan berbagai misi yang sesuai dengan syariah islam, seperti misi aqidah, misi iqtisadi, misi ibadah, dan misi keumatan. 

Konsep Asuransi Syariah

Konsep asuransi syariah sendiri sangat berlandaskan dengan syariah islam dan tidak memuat unsur riba di dalamnya. Riba yang dimaksud dalam konsep asuransi syariah adalah tambahan biaya atau bunga kepada perusahaan asuransi sebagai imbalan dalam pengelolaan dana.

Jadi, konsep asuransi syariah adalah konsep untuk saling tolong-menolong antar peserta asuransi melalui dana tabarru dan memungkinkan dana tersebut dapat dipinjamkan pada peserta asuransi tanpa adanya unsur paksaan. 

Kontrak atau Akad Asuransi Syariah

Berdasarkan fatwa DSN MUI 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, terdapat empat jenis akad yang berlaku dalam asuransi syariah, yaitu:

1. Akad Tabarru

Melalui akad tabarru, peserta asuransi syariah akan memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta asuransi lainnya, jika nantinya terkena musibah. Di sini peran dari pihak penanggung asuransi syariah adalah sebagai pengelola dana hibah milik peserta asuransi syariah ini.

2. Akad Tijarah (Mudharabah)

Pada akad satu ini, peserta asuransi disebut sebagai shahibul mal atau pemegang polis dan perusahaan asuransi disebut sebagai mudharib atau pihak pengelola.

Selanjutnya, permi dari akad Tijarah dapat diinvestasikan dan profitnya bisa dibagikan pada peserta asuransi syariah.

3. Akad Wakalah bil Ujrah

Pada akad ini perusahaan asuransi diberikan kuasa untuk mengelola dana peserta asuransi dengan imbalan pemberian ujrah. Sebagai pihak yang diberikan kuasa, perusahaan asuransi dapat menginvestasikan premi dari peserta asuransi.

Namun, perusahaan asuransi tidak berhak untuk memperoleh bagian dari keuntungan investasi atas premi tersebut karena keuntungan akan dikembalikan pada peserta asuransi.

4. Akad Mudharabah Musyarakah

Perusahaan asuransi berperan sebagai mudharib atau pihak yang menerima amanah dari peserta asuransi. Oleh karena itu, perusahaan asuransi akan menempatkan dana mereka dan milik peserta ke dalam investasi.

Nantinya, bagi hasil diberikan pada peserta dan perusahaan asuransi berdasar dengan nisbah atau sistem kesepakatan bagi hasil antara peserta dan perusahaan asuransi.

Produk Asuransi Syariah

Produk asuransi syariah tidak jauh berbeda dengan produk asuransi konvensional. Namun, yang membedakan adalah semua prosedur dalam produk asuransi syariah adalah sesuai dengan syariah islam.

Berikut ini beberapa produk syariah islam diantaranya, yaitu:

1. Asuransi Kesehatan Syariah

Asuransi kesehatan syariah adalah produk asuransi yang akan memberikan bantuan, apabila salah satu peserta asuransi sakit atau mengalami kecelakaan.

2. Asuransi Jiwa Syariah

Produk asuransi jiwa syariah adalah produk dengan memberikan manfaat uang pertanggungan pada ahli waris jika peserta asuransi telah meninggal dunia.

3. Asuransi Pendidikan Syariah

Pada asuransi pendidikan syariah, dana pendidikan akan diberikan pada penerima hibah, yaitu anak dari peserta asuransi syariah berdasarkan dengan jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.

Namun, apabila peserta asuransi meninggal dunia, dana pendidikan tetap akan diberikan pada ahli waris dari peserta asuransi.

4. Asuransi Syariah Berkelompok

Produk asuransi syariah berikut ini memang dirancang untuk sekumpulan peserta asuransi, seperti organisasi, komunitas, hingga ke perusahaan. Produk asuransi ini karena menyasar peserta yang cenderung banyak, maka harga yang ditawarkan juga cenderung lebih murah.

5. Asuransi Haji Umrah

Pada produk asuransi haji umrah digunakan untuk memberi perlindungan terhadap jamaah haji atau umrah apabila jamaah terkena musibah selama menjalankan ibadah suci di Mekkah.

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Secara umum terdapat dua jenis asuransi, yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Namun, kedua jenis asuransi ini memiliki perbedaan yang signifikan. Berikut ini beberapa perbedaan asuransi syariah dan konvensional adalah:

1. Prinsip 

Pertama, perbedaan asuransi syariah dan konvensional dapat dilihat dari prinsip kedua jenis asuransi ini. 

Pada asuransi biasa atau konvensional memiliki prinsip jual-beli. Di mana, peserta wajib membayarkan premi dan selanjutnya akan menerima imbalan berupa proteksi atau perlindungan terhadap risiko jiwa, kesehatan, pendidikan, dan lainnya.

Sedangkan pada asuransi syariah memiliki prinsip saling tolong menolong antar sesama peserta asuransi melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru.

Untuk risiko dalam investasi ini terdapat sharing of risk atau saling berbagi risiko dengan nasabah yang menghibahkan sejumlah dananya untuk saling membantu antar sesama peserta.

2. Kepemilikan Dana

Untuk bagian kepemilikan dana asuransi konvensional didasarkan pada premi yang telah dibayarkan oleh peserta asuransi. Maka dari itu, untuk pertanggungan terhadap risiko  seluruhnya berdasarkan pada premi yang telah dibayarkan dan telah disetujui oleh perusahaan asuransi dan peserta asuransi.

Namun, pada kepemilikan dana asuransi syariah adalah sistemnya milik bersama atau secara kolektif. Jadi, bila terdapat peserta asuransi yang terkena musibah, maka kepemilikan dana bersama ini akan diberikan pada peserta asuransi yang membutuhkan sebagai santunan.

3. Sistem Perjanjian

Dalam sistem perjanjiannya, asuransi syariah menggunakan sistem perjanjian atau akad tabarru. Sistem perjanjian ini bertujuan untuk menolong sesama peserta asuransi syariah, bukan hanya untuk tujuan komersial saja.

Sedangkan sistem perjanjian pada asuransi konvensional menggunakan sistem jual-beli dengan adanya kejelasan seputar penjual, pembeli, objek yang diperjualbelikan, harga, dan persetujuan antara peserta asuransi dan perusahaan asuransi.

4. Pengelolaan Dana

Pada asuransi konvensional, pengelolaan dananya dilakukan sesuai perjanjian antara peserta asuransi dengan perusahaan asuransi. Peserta asuransi diwajibkan untuk membayar premi dan perusahaan asuransi akan mengelola dana peserta berdasarkan dengan perjanjian yang telah dibuat.

Perbedaan pada pengelolaan dana asuransi syariah adalah dengan mengelompokkan dana para peserta tanpa adanya hak milik. Dana milik peserta yang telah terkumpul akan dikelola untuk kepentingan nasabah secara transparan.

5. Pengawasan Dana

Untuk pengawasan dana pada asuransi konvensional tidak memiliki lembaga pengawas khusus yang mengatur kegiatan transaksi antara peserta asuransi dan perusahaan asuransi. Namun, perusahaan asuransi konvensional harus memiliki izin dari OJK dalam beroperasi.

Sedangkan pengawasan dana pada asuransi syariah dilakukan oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah). DPS sendiri berperan untuk memastikan jalannya transaksi dana terjadi sesuai dengan syariah islam.

6. Pembayaran Klaim Polis

Pada asuransi syariah, klaim asuransi didapatkan dari hasil pencairan dana milik bersama peserta asuransi. Jadi, dana para peserta yang telah terkumpul akan menjadi uang asuransi yang nantinya akan diberikan pada peserta yang terkena musibah.

Namun, pada pengajuan klaim asuransi konvensional, nasabah akan menggunakan dana milik perusahaan sebagai uang pertanggungan yang jumlahnya sesuai dengan polis yang telah berlaku.

7. Dana Hangus

Dana hangus sendiri hanya berlaku pada asuransi konvensional, di mana terjadi jika pada periode polis telah berakhir atau saat nasabah sudah tidak mampu lagi dalam membayar premi atau biaya asuransi lainnya dan membuat dana hangus.

Sedangkan pada asuransi syariah tidak menerapkan dana hangus karena para peserta asuransi dapat mengambil kembali dananya walaupun telah dibayarkan.

8. Surplus Underwriting 

Pada asuransi konvensional tidak mengenal surplus underwriting. Hal ini karena keuntungan yang diperoleh dari underwriting sepenuhnya menjadi milik perusahaan.

Sedangkan pada asuransi syariah, surplus underwriting akan dibagikan pada peserta asuransi berdasarkan pada regulasi dan fitur pada produk yang telah disepakati.

9. Pemegang Polis

Pada asuransi syariah, polis dapat dipegang oleh lebih dari satu orang atau dapat dipegang oleh satu keluarga. Jadi, seluruh keluarga bisa menikmati manfaat perlindungan dari polis tersebut.

Sedangkan pada asuransi konvensional, polis asuransi hanya boleh dipegang oleh satu orang saja, yaitu oleh peserta asuransi yang selalu membayar preminya pada perusahaan asuransi.

Memilih Investasi untuk Masa Depan Terencana

Nah, kita telah membahas seputar asuransi syariah, hingga perbedaan asuransi syariah dan konvensional. Jika kita mengingat kembali, asuransi syariah adalah asuransi yang memiliki prinsip untuk saling tolong-menolong antar sesama peserta asuransi yang mekanisme prosesnya sesuai dengan syariah islam.

Jika kita mengingat kembali, asuransi digunakan sebagai persiapan dana untuk menghadapi kemungkinan terjadinya risiko di masa mendatang. Hal ini sama dengan berinvestasi, di mana kita berinvestasi untuk masa depan yang lebih terjamin dan terencana lagi.

Dengan berinvestasi memungkinkan kita bisa memiliki persiapan dana yang dapat digunakan untuk jangka panjang, untuk masa pensiun misalnya. Namun, saat memulai investasi tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu seputar investasi untuk meminimalisir segala risiko.

Salah satu investasi yang dapat kita lakukan yaitu berinvestasi melalui sistem equity crowdfunding.  Lewat skema investasi ini, nantinya kita akan mendanai salah satu bisnis UMKM berpotensi secara patungan bersama beberapa investor lainnya. Setelah dana terkumpul nantinya kita berpotensi mendapatkan keuntungan berupa dividen dari bisnis UMKM berpotensi yang telah didanai.

Memulai investasi equity crowdfunding sendiri dapat dilakukan dengan modal yang kecil, yaitu mulai dari Rp1 jutaan, saja. Kita berkesempatan menjadi salah satu pemilik saham bisnis UMKM berpotensi, mulai dari bisnis kuliner, hingga bisnis properti.

LandX merupakan platform equity crowdfunding terpercaya, telah mengantongi izin dari OJK, dan telah memiliki market cap terbesar se-Indonesia. Di LandX kita bisa memulai pendanaan bisnis UMKM berpotensi melalui aplikasi LandX.

Wujudkan Masa Depan Terencana dengan Investasi di LandX Sekarang Juga!