Investor Penerbit
menu-mobile

Behavioral Finance: Pengertian dan Contohnya

23 November 2022

|

6 Min Read

|

Author: Umar Tusin
Tipe behavioural finance

Behavioral finance adalah pengaruh psikologis dalam mengambil keputusan keuangan dan dapat membuat investor tidak mendapatkan keuntungan yang optimal. Yuk, kenali behavioral finance lebih jelas lewat artikel ini!

Behavioral finance adalah kajian yang berfokus pada pengaruh psikologis dalam mengambil keputusan investasi. Finance behaviour meyakini bahwa investor tidak selalu rasional dan memiliki batasan untuk mengendalikan diri.

Behavioural investing (perilaku investasi) juga dapat menjelaskan mengenai kondisi pasar saham seperti kenaikan atau penurunan harga saham. Kondisi pasar yang fluktuatif tersebut tidak lepas dari perilaku keuangan investor yang memiliki tipe behavioral finance yang berbeda-beda.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai behavioral finance, berikut adalah penjelasan tentang pengertian, tipe behavioural finance, dan perilaku keuangan atau behavioural finance yang harus dihindari.

Apa Itu Behavioral Finance?

Behavioral finance pertama kali berasal dari karya psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky dan ekonomi Robert J. Shiller pada 1970an - 1980an. Mereka menerapkan bias dan heuristik bawah sadar yang tertanam pada cara orang membuat keputusan keuangan.

Secara ringkas behavioral finance adalah studi atau kajian tentang pengaruh psikologis pada investor dan pasar keuangan. Lantas, kenapa finance behavioural penting untuk dipahami?

Behavioral finance perlu dipahami agar investor tidak bias dalam menentukan pilihan investasi sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih optimal. Bias dalam behavioural finance dapat mengaburkan informasi yang berpotensi menguntungkan investor.

Saat kesehatan investor membaik atau memburuk, maka kondisi psikologis investor juga dapat berubah. Hal tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan rasionalitas investor terhadap semua masalah dunia nyata, termasuk keputusan untuk investasi (behavioral finance).

Menurut ekonom Herbert Simon, kebanyakan orang menggunakan heuristik saat menghadapi keputusan yang kompleks. Heuristik adalah jalan pintas mental yang kita gunakan untuk memutuskan sesuatu atau tidak sama sekali dengan cepat. Investor sering menggunakan heuristik saat menganalisis keputusan investasi.

Konsep Behavioral Finance

Behavioral finance mencakup beberapa konsep dasar, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Mental Accounting

Mental accounting mengacu pada kecenderungan orang untuk mengalokasikan uang untuk tujuan tertentu. Contoh behavioural finance dalam konsep ini adalah saat seseorang menabung uang tunai di dalam celengan, namun di saat yang bersamaan orang tersebut juga menggunakan kartu kredit dengan jumlah yang besar.

2. Herd Behavior

Herd behavior adalah perilaku seseorang yang cenderung meniru perilaku keuangan teman.  Contoh behavioural finance dalam konsep ini adalah ikut-ikutan teman membeli saham tertentu tanpa melakukan analisis individu. 

3. Emotional gap (kesenjangan emosional)

Kesenjangan emosional mengacu pada pengambilan keputusan berdasarkan ketegangan emosional seperti kecemasan, kemarahan, ketakutan, atau kegembiraan. Seringkali, emosi adalah alasan utama mengapa orang tidak membuat pilihan yang rasional.

4. Self Attribution

Self attribution adalah membuat pilihan berdasarkan terlalu percaya diri dalam pengetahuan atau keterampilan sendiri. Dalam konsep ini, seseorang cenderung menilai pengetahuan mereka lebih tinggi daripada yang lain.

Bias dalam Behavioural Finance (Behavioural Finance Bias)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, behavioral finance tidak terlepas dari bias dan heuristik bawah sadar. Jadi tidak salah jika mengatakan bias dan heuristik adalah pilar utama dalam behavioural finance.

Bias dalam behavioral finance perlu dihindari oleh investor untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal. Untuk menghindari bias tersebut, investor perlu mengenali jenis-jenis bias dalam behavioral finance pada penjelasan berikut ini.

1. Bias Konfirmasi

Investor cenderung hanya mencari informasi yang mendukung pendapatnya saat mengambil keputusan investasi dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan pendapatnya.

2. Bias Pengalaman

Bias pengalaman terjadi ketika ingatan investor tentang peristiwa baru-baru ini atau sebelumnya membuat investor percaya bahwa peristiwa tersebut akan terjadi lagi. 

3. Bias Lost Aversion

Bias loss aversion terjadi saat investor lebih memikirkan kerugian daripada kepuasan atas keuntungan investasi. Dengan kata lain, investor lebih berusaha untuk mempertahankan investasi untuk menghindari kerugian daripada menghasilkan keuntungan.

Investor seringkali bahkan tidak menyadari bahwa mereka berperilaku bias karena hal itu terjadi secara tidak sadar. Namun, kamu harus memahami bahwa perilaku bias ini dapat mengakibatkan kerugian jangka panjang.

4. Bias Keakraban

Bias keakraban adalah ketika investor cenderung berinvestasi pada apa yang mereka ketahui, seperti perusahaan domestik atau perusahaan lokal. Investor cenderung memilih investasi yang memiliki sejarah atau familiar dengan mereka. Akibatnya, investor tidak membagi investasinya ke berbagai sektor dan jenis investasi yang dapat mengurangi risiko.

5. Bias Pembingkaian

Dalam bias ini pengambilan keputusan didasarkan pada cara penyajian informasi, bukan pada fakta yang disajikan. Penyajian fakta dapat menimbulkan penilaian atau keputusan yang berbeda. Peluang yang sama dapat menimbulkan tanggapan yang berbeda dari investor yang sama bergantung pada bagaimana peluang disajikan.

Contoh Behavioral Finance

Contoh behavioural finance bisa bermacam-macam. Hal tersebut tergantung dari kondisi investor dan kemungkinan bias yang diterimanya. Berikut adalah contoh behavioral finance.

Contoh Bias Pengalaman

Misalnya, pada tahun 2020 perusahaan tekstil A diberitakan mendapat gugatan akibat pencemaran lingkungan. Gugatan tersebut diberitakan oleh media massa dan membuat saham perusahaan A anjlok.

Pada tahun 2021, perusahaan tekstil B juga menerima gugatan akibat pencemaran lingkungan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, investor yang menanamkan saham di perusahaan tekstil B langsung menjual sahamnya secara masal.

Tak hanya itu, setelah pemberitaan perusahaan tekstil B menyebar, investor di perusahaan tekstil C dan D ikut khawatir. Mereka khawatir perusahaan C dan D dituntut dengan gugatan serupa.  

Akhirnya investor C dan D juga menjual kepemilikan sahamnya karena takut rugi. Hasilnya, saham di sektor tekstil anjlok dalam waktu singkat.

Dalam kasus diatas investor perusahaan tekstil C dan D terlalu bias terhadap pengalaman sebelumnya. Investor perusahaan tekstil C dan D juga mengalami emotional gap yaitu dengan pengambilan keputusan berdasarkan ketegangan. Selain itu, dalam kasus diatas juga menunjukan bahwa behavioral finance dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham.

Contoh Bias Pembingkaian

Pada laporan pertama, perusahaan A mengatakan keuntungan laba bulan Agustus sebesar Rp.50 juta, dari target keuntungan bulan Agustus Rp80 juta. Sedangkan pada laporan kedua, perusahaan mengemas laporan dengan mengatakan keuntungan bulan Agustus sebesar Rp50 juta dan keuntungan mengalami kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya sebesar Rp30 juta.

Pada contoh tersebut, perusahaan jelas mengemas laporan kedua lebih menarik dibandingkan dengan laporan pertama. 

Menghindari Bias dalam Equity Crowdfunding

Perilaku keuangan atau behavioural finance yang harus dihindari adalah bias investor itu sendiri. Bias dalam behavioral finance akan membuat investor tidak berpikiran rasional. Akibatnya, investor bisa mengabaikan fakta informasi yang sebenarnya berpotensi menguntungkan baginya

Cara investor menghindari bias dalam behavioral finance bisa dengan membaca dan menganalisis informasi mengenai suatu perusahaan. Dengan menganalisis latar belakang, skema bisnis, dan laporan keuangan perusahaan, investor bisa memahami potensi keuntungan atau kerugian dari perusahaan tersebut serta meyakinkan diri dalam mengambil keputusan investasi. 

Investor berperan penting dalam kinerja dan pertumbuhan sebuah perusahaan. Hal tersebut karena investor bisa berperan sebagai penyuntik modal saat perusahaan kesulitan mendapatkan pinjaman modal dari bank. Setelah memberikan modal, investor berpeluang akan mendapatkan saham kepemilikan dan berpotensi mendapat dividen.

Saat ini, saham perusahaan tidak hanya dijual di pasar modal, melainkan juga bisa didapatkan dalam skema equity crowdfunding. Equity crowdfunding adalah skema urun dana yang dilakukan investor kepada perusahaan yang ingin mengembangkan bisnisnya.

Skema urun dana dilakukan melalui platform equity crowdfunding. Dalam platform tersebut, investor dapat memilih dan membeli saham perusahaan. Jadi yang dimaksud urun dana adalah dengan membeli saham perusahaan yang listing di platform equity crowdfunding.

Salah satu platform equity crowdfunding berizin OJK adalah LandX. Melalui platform LandX investor bisa membeli saham perusahaan dari berbagai sektor bisnis. 

Untuk menghindari bias dalam behavioral finance, LandX sudah menyediakan informasi seputar latar belakang perusahaan, skema bisnis, laporan keuangan, dan estimasi dividen yang dikemas dalam prospektus. Bahkan, LandX juga memiliki fitur Kinerja Aset di mana investor dapat memantau perkembangan bisnis UMKM secara real-time. Mulai dari proses pendanaan, pembangunan outlet, hingga laporan keuangan secara berkala, hingga tanggal estimasi pembagian dividen. 

Tunggu Apa Lagi? Yuk, Investasi Saham Rp 1 Jutaan di LandX!