Startup layanan urun dana atau platform equity crowdfunding mulai bermunculan di Indonesia dan popularitasnya kian hari makin mencuri perhatian saja ya.

Apalagi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah secara resmi memperkenalkan aturan terbaru tentang securities crowdfunding ke publik pada pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2021.

Hal ini tentu menjadi angin segar bagi sektor financial technology (fintech) karena aktivitasnya dalam mengembangkan inovasi di sektor keuangan digital kian di akomodasi oleh pemerintah.

Sebelumnya, publik memang hanya mengenal sektor fintech terbatas pada pembayaran digital dan pinjaman online saja.

Kali ini, kita akan membahas secara singkat mengenai layanan urun dana atau platform crowdfunding serta mengapa sektor ini makin eksis dan semakin populer di Indonesia pada tahun 2021.


Table of Content


Begini Kondisi Ekosistem Crowdfunding di Indonesia

Tidak hanya populer di AS, platform equity crowdfunding pun sudah masuk ke Indonesia. Bahkan, pemerintah saat ini telah membuat aturan main yang jelas sehingga menjadikan ekosistem crowdfunding kian matang.

Platform crowdfunding atau yang dikenal sebagai layanan urun dana hadir di Tanah Air untuk memudahkan pebisnis dalam mencari pendanaan dan memberikan peluang bagi investor yang mencari instrumen alternatif dalam berinvestasi.

Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 37/POJK.04/2018, yang dimaksud dengan platform equity crowdfunding (ECF) atau layanan urun dana melalui penawaran saham berbasis teknologi adalah penggalangan dana yang dilakukan oleh pelaku bisnis untuk menjual saham kepada investor melalui platform yang disediakan oleh penyelenggara.

Penyelenggara ECF ini mirip seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memungkinkan adanya jual-beli saham suatu perusahaan.

Bedanya, BEI merupakan tempat bagi perusahaan yang ingin mencari pendanaan dengan skala besar. Sementara ECF adalah tempat bagi perusahaan tertutup skala Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga perusahaan rintisan (startup).

Berdasarkan regulasi, penawaran saham melalui layanan urun dana juga berbeda dengan penawaran umum yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Meski ada beberapa hal yang membedakan keduanya, membeli saham yang listing di BEI dan ECF tetap sama-sama akan tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Nah, demi memperluas alternatif pendanaan bagi UKM dan startup, Peraturan OJK 37/POJK.04/2018 kemudian diganti dengan Peraturan OJK 57/POJK.04/2020 tentang Penawaran Efek melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi atau disebut securities crowdfunding (SCF).

Dengan aturan baru ini, pelaku usaha tidak hanya dapat menawarkan efek berupa saham lewat layanan urun dana, tapi juga efek yang bersifat utang atau sukuk.

Aturan ini turut memperjelas penawaran saham melalui penyelenggara layanan urun dana memiliki batas maksimum penghimpunan dana yaitu Rp10 miliar bagi setiap penerbit dalam jangka waktu 12 bulan dan masa penawaran efek paling lama 45 hari.

Selain itu, kriteria penerbit pun semakin jelas. Penerbit yang listing di layanan urun dana bukan merupakan perusahaan publik jika hanya memenuhi salah satu kriteria dari dua syarat. Pertama jumlah pemegang saham lebih dari 300 pihak dan kedua modal disetor lebih dari Rp30 miliar.

Geliat StartUp Equity Crowdfunding di Indonesia

LandX (PT Numex Teknologi Indonesia) merupakan satu dari empat penyelenggara ECF telah mengantongi izin dan diawasi oleh OJK pada 23 Desember 2020 atau hampir setahun sejak OJK terakhir kali memberikan izin kepada platform equity crowdfunding.

LandX membantu para investor dalam mencari dan memiliki bisnis yang menguntungkan, tapi terkendala waktu karena sibuk kerja, modal terbatas, serta skill dan pengalaman bisnis yang pas-pasan.

Dengan aplikasi LandX, investor dapat berinvestasi hanya mulai dari Rp1 juta saja ke bisnis yang punya prospek bagus dan dikelola oleh manajemen profesional dan berpengalaman.

Selain berhak mendapatkan keuntungan dividen sesuai kinerja bisnis yang kamu miliki, jika harga sahamnya naik, investor juga bisa mendapatkan untung dari capital gain. Jadi, untungnya bisa dari 2 sisi.

Saat berdiri, LandX lebih fokus me-listing sejumlah project kos-kosan. Namun, kini project yang listing di LandX lebih bervariatif seperti cloud kitchen, pabrik pupuk, restoran, dan lain sebagainya.

Setiap perusahaan yang listing LandX telah melalui proses seleksi yang ketat karena sudah menerapkan proses penilaian terpadu, baik dari segi kuantitatif dan kualitatif sehingga investor menjadi lebih aman dalam berinvestasi.

LandX mempunyai visi untuk memajukan industri startup equity crowdfunding di Indonesia dan berharap dengan berkembangnya industri ini dapat membantu pengusaha dalam mencari pendanaan dan memudahkan investor dalam mencari instrumen investasi dengan modal kecil.

Pada tahun 2021 ini, LandX membidik dapat melakukan listing 50 saham UMKM. Selain itu, LandX ke depannya juga akan memperluas izin usahanya sebagai platform securities crowdfunding.

Artikel Terkait:

Sejarah Platform Crowdfunding

Secara sederhana, platform crowdfunding hadir untuk membantu proyek bersifat profit ataupun non-profit untuk mendapatkan pendanaan dengan makinismen patungan dari para investor.

Sama halnya seperti berinvestasi, investor yang terlibat dalam patungan penggalangan dana suatu project akan mendapatkan imbal hasil sesuai kesepakatan, baik materiel maupun imateriel.

Konsep crowdfunding pertama kali muncul di Amerika Serikat (AS) dengan diluncurkannya situs bernama Artistshare pada tahun 2003.

Dalam situs tersebut, para musisi berusaha mencari dana dari para penggemarnya agar bisa memproduksi karya.

Kehadiran Artistshare kemudian menginisiasi munculnya situs-situs crowdfunding lainnya.

Kickstarter yang bergerak di bidang pendanaan industri kreatif mulai eksis pada tahun 2009.

Sementara GoFundMe yang mengelola penggalangan dana untuk berbagai kegiatan acara hingga keadaan genting seperti kecelakaan hingga penyakit hadir pada tahun 2010.

4 Pembagian Kategori dalam Crowdfunding

Seiring berjalannya waktu, crowdfunding kemudian dibagi menjadi 4 kategori yaitu berdasarkan Donation Based, Reward Based, Debt Based, dan Equity Based.

  • Donation Based biasanya diperuntukkan bagi proyek-proyek yang bersifat non-profit. Penggalangan dana ini biasanya berupa kegiatan amal untuk donasi ke pihak yang membutuhkan, membangun sekolah, pembagian makan gratis, bantuan bencana alam, dan lain sebagainya. Penyumbang mendonasikan dananya untuk membantu tanpa pamrih.
  • Reward Based biasanya diperuntukkan bagi proyek-proyek di industri kreatif seperti games, seni rupa, hingga pembuatan film. Sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikan dukungan secara materiil, donatur yang mendanai proyek semacam ini akan mendapat penawaran eksklusif dalam bentuk barang, jasa, atau hak eksklusif lainnya.
  • Debt Based memliki skema yang sama seperti meminjamkan dana. Debitur akan menggalang dana dari para kreditur agar bisa menggarap proyek yang ingin dikerjakan.
    Setelah jangka waktu yang telah disepakati, kreditur akan mendapatkan kembali uang yang mereka pinjamkan beserta imbal balik berupa bunga yang telah disepakati.
  • Equity Based adalah konsep yang sama seperti investor membeli saham suatu perusahaan. Saat terlibat dalam penggalangan dana, uang investor akan dikonversi menjadi kepemilikan saham dari suatu perusahaan. Investor yang memiliki saham berhak atas profit berupa dividen atau juga capital gain ketika menjual kepemilikan saham miliknya di masa mendatang.

Kesimpulan

Kamu sudah lihat kan dua alasan mengapa startup dan ekosistem sektor equity crowdfunding ke depannya akan makin eksis saja di Indonesia.

Pertama, karena adanya dukungan dari Pemerintah Indonesia yang menerbitkan regulasi terbaru tentang aturan main layanan urun dana.

Kedua, karena jumlah pelaku startup sebagai penyelenggara equity crowdfunding di Indonesia kian bertambah banyak.

Gimana, kamu sekarang sudah makin akrab dengan equity crowdfunding kan?

Baca Juga:

Supaya Terus Update Info Investasi Terbaru Yuk Follow Kami di Instagram @landx.id

#LandX.id #landx.id #InvestasiBisnis #EquityCrowdfunding #InvestasiMenguntungkan #Urundana #BisnisPatungan #InvestasiUsaha