IPO atau initial public offering adalah kondisi saat suatu perusahaan atau emiten memutuskan untuk melepaskan saham yang mereka miliki kepada publik, dengan kata lain perusahaan menjual sebagian sahamnya kepada publik atau masyarakat umum.

IPO juga sering disebut sebagai penawaran saham perdana karena IPO merupakan waktu kali pertama perusahaan melepaskan saham mereka kepada masyarakat umum sehingga publik dapat memiliki saham atau bagian kepemilikan dari suatu bisnis.

Dalam beberapa waktu belakangan, kita sering mendengar bahwa beberapa perusahaan startup berencana untuk IPO pada tahun ini, Bukalapak merupakan salah satu dari perusahaan tersebut dan akan melepaskan sahamnya kepada publik dalam waktu dekat.

Hal ini tentu saja menjadi perhatian bagi banyak orang terutama bagi calon investor yang tertarik untuk membeli saham dari salah satu e-commerce asal Indonesia ini.

Akan tetapi, hal ini menjadi pro dan kontra karena di satu sisi orang-orang berpandangan bahwa perusahaan ini kurang menjanjikan mengingat Bukalapak belum membukukan keuntungan hingga saat ini. Di sisi lain, banyak orang berpandangan Bukalapak memiliki potensi yang cukup besar melihat potensi perkembangan ekonomi digital di masa mendatang.

Oleh sebab itu, mari kita bahas lebih lanjut terkait IPO Bukalapak agar kamu semakin paham seputar investasi.


Table of Content


Apa Itu IPO?

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, IPO (Initial Public Offering) merupakan tahapan di mana suatu perusahaan  atau emiten memberikan penawaran saham perdana kepada masyarakat luas. Untuk Bukalapak sendiri, mereka akan mulai masa penawaran hingga 27 Juli 2021 dan akan melakukan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 6 Agustus 2021.

Sebagai Unicorn pertama yang akan melakukan IPO, Bukalapak akan melepas sebanyak 25,76 miliar saham atau setara 25% dari total saham dengan harga per lembar 750-850. Melalui pelepasan saham kepada publik ini, Bukalapak diperkirakan akan memperoleh dana sebanyak 21,9 triliun.

Kenapa Bukalapak IPO?

Pertanyaan berikutnya yang pasti sering menjadi pertanyaan anda adalah, kenapa suatu perusahaan IPO? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita bahas beberapa alasan suatu perusahan go public atau IPO.

Membangun Pertumbuhan yang Lebih Pesat

Saat melepaskan saham mereka kepada publik, perusahaan biasanya akan menggunakan dana yang mereka peroleh untuk memaksimalkan pertumbuhan, di mana hal ini sekaligus akan menguntungkan investor karena harga saham akan ikut naik seiring semakin berkembangnya suatu perusahaan.

Oleh sebab itu, biasanya setelah melakukan IPO perusahaan akan melakukan ekspansi untuk memaksimalkan keuntungan yang mereka dapatkan. Setelah IPO, Bukalapak berencana untuk mengoptimalkan perkembangan mereka di sektor ekonomi digital yang sangat potensial untuk jangka panjang.

Kebutuhan akan Modal

Alasan lain perusahaan melakukan IPO adalah keterbatasan modal sehingga mereka mereka melepaskan saham mereka kepada publik untuk mendapatkan modal selain meminjam kepada bank. IPO juga dilakukan sebagai langkah agar perusahaan bisa menekan beban hutang yang mereka miliki.

Tambahan modal yang didapatkan ini juga bisa digunakan untuk pengembangan bisnis yang sebelumnya terhadap masalah pendanaan. Melalui IPO perusahaan memiliki modal untuk ekspansi sehingga bisa membuat nilai saham meningkat dan menguntungkan investor. Hal ini berpotensi memberikan investor keuntungan dalam jangka panjang.

Mengacu pada prospektus yang dikeluarkan Bukalapak, berikut rencana penggunaan dana yang diperoleh dari IPO:

Karena kita sudah membahas cukup banyak seputar IPO, mari kita bahas lebih lanjut tentang Bukalapak sebagai startup unicorn pertama yang akan IPO dan tercatat di BEI.

Mengenal Lebih Dekat Bukalapak

Tokoh-Tokoh Dibalik Bukalapak

Bukalapak pertama kali diluncurkan pada 10 Januari 2010 yang didirikan oleh Achmad Zaky, Muhammad Fajrin Rasyid, dan Nugroho Herucahyono. Bukalapak merupakan salah satu platform e-commerce yang bertujuan memberikan fasilitas kepada UKM untuk memasarkan produk mereka secara digital.

Sebelumnya, Achmad Zaky merupakan pendiri sekaligus CEO dari Bukalapak hingga akhirnya digantikan pada akhir tahun 2019 oleh Rachmat Kaimuddin yang sebelumnya merupakan Director of Finance and Planning di Bank Bukopin. Pergantian ini diharapkan bisa membawa Bukalapak berkembang ke arah yang lebih baik dan terus membantu perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Dalam perkembangannya, Bukalapak mendapatkan pendanaan dari beberapa pihak seperti Batavia Incubator, Gree Ventures, Aucfan, IREP, dan 500 Startups untuk pendanaan seri A. Sedangkan untuk pendanaan seri B Bukalapak mendapatkan pendanaan dari Grup Emtek melalui anak perusahaannya PT. Kreatif Media Karya (KMK Online) pada tahun 2015.

Selain, itu Bukalapak juga mendapatkan pendanaan dari beberapa sumber lain seperti Asia Growth Fund dan Shinhan Financial Group Co Ltd.

Untuk lebih lengkapnya berikut 55 investor utama di balik Bukalapak:

daftar-investor-utama-di-bukalapak--BUKA-
Penggunaan-dana-yang-diperolehan-dari-hasil-penawaran-umum-perdana-saham-Bukalapak-BUKA--2Penggunaan-dana-yang-diperolehan-dari-hasil-penawaran-umum-perdana-saham-Bukalapak-BUKA-3

Pro dan Kontra IPO Bukalapak

IPO Bukalapak sebagai salah satu startup unicorn tentu saja menarik banyak perhatian masyarakat. Sebagai perusahaan unicorn pertama yang akan melepas saham mereka kepada publik, Bukalapak tentu saja diminati oleh banyak calon investor. Ditambah lagi Bukalapak memiliki prospek yang menarik untuk jangka panjang melihat sistem ekonomi berbasis digital semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Akan tetapi, tidak sedikit juga investor yang ragu untuk membeli saham Bukalapak karena mengingat Bukalapak sebagai emiten masih mencatat kerugian hingga saat ini.

Kondisi perusahaan yang masih belum mencatat keuntungan ini tentu saja membuat sebagian investor masih ragu untuk membeli saham Bukalapak saat IPO nanti.

Selain itu, analis juga memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap harga IPO Bukalapak, sebagian menilai harga saham yang ditawarkan saat IPO ini tergolong mahal mengingat hingga saat ini perusahaan masih mengalami kerugian.

Tapi, di sisi lain analisis menilai saham Bukalapak merupakan sektor bisnis digital yang akan bertumbuh dengan pesat sehingga apabila dinilai menggunakan rasio konvensional seperti PBV dan PER tentu saja tidak akan menarik.

Oleh sebab itu, nilai saham ini perlu dilihat melalui valuasi lain seperti price to sales untuk menilai saham ini. Oleh sebab itu, mari kita cek hal ini berdasarkan beberapa jenis rasio keuangan berikut ini.

Rasio Keuangan untuk Menilai Suatu Saham

PBV (Price to Book Value)

Rasio PBV merupakan salah satu yang sering digunakan untuk menilai suatu saham tergolong murah atau mahal. Rasio ini dihitung dengan nilai buku suatu terlebih dahulu dengan perbandingan antara total ekuitas dan jumlah saham yang beredar.  

Lalu untuk PBV dihitung dengan perbandingan antara harga pasar saham dengan book value atau nilai buku.

Berdasarkan perhitungan ini, saham Bukalapak memiliki PBV dengan kisaran 3,7 hingga 4,2 kali. Hasil ini mengacu pada nilai penawaran yaitu Rp 750-850 dan total equity pada per kuartal I 2021. Apabila mengacu pada rasio ini maka saham tergolong mahal dengan nilai PBV diatas 1.

Namun, apabila harga saham Bukalapak ini tergolong murah jika dibandingkan beberapa saham teknologi lain yang nilai PBV cukup melambung tinggi pada beberapa waktu belakangan.

Akan tetapi, beberapa pihak berpendapat bahwa rasio ini merupakan metode yang konvensional sehingga tidak digunakan untuk menilai bisnis digital yang sedang berkembang secara pesat.

PSR (Price to Sales Ratio)

Rasio ini merupakan salah satu rasio yang biasa digunakan untuk menilai suatu saham memiliki harga yang mahal atau tidak. Rasio ini diukur dengan perbandingan harga saham dengan penjualan per saham yang diukur membandingkan penjualan bersih dengan jumlah saham yang beredar.

Bukalapak sendiri mencatat bahwa saat ini mereka memiliki 103,06 saham beredar dan pendapatan kuartal I sebanyak Rp 423,7 miliar sehingga pendapatan pendapatan per tahun diasumsikan mencapai Rp 1,69 triliun. Melalui perhitungan ini maka kita bisa melihat bahwa saham Bukalapak memiliki price to sales ratio 45,6 hingga 51,7 kali.

Angka ratio ini terhitung sangat tinggi karena beberapa analis berpendapat bahwa price to sales ratio di atas 5 itu sudah tergolong mahal. Akan tetapi, sebelum itu anda tidak boleh lupa membandingkan angka ini dengan beberapa industri sejenis agar anda mendapatkan gambaran yang lebih detail lagi terkait saham ini.

Akan tetapi, sebelum membeli saham dari suatu perusahaan, anda perlu memahami dengan baik bagaimana fundamental dari suatu perusahaan. Oleh sebab itu, anda perlu memperhatikan bagaimana kinerja suatu perusahaan dan prospek perkembangan mereka dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, alangkah baiknya anda membaca laporan keuangan dari perusahaan terkait agar anda bisa menilai bagaimana posisi perusahaan yang akan anda beli sahamnya.

Nah, bagaimana anda tertarik tidak membeli saham Bukalapak yang akan IPO dalam beberapa hari mendatang? Apabila anda tertarik yuk kita bahas bagaimana mekanisme mendapatkan saham Bukalapak.

Cara Beli Saham Bukalapak

Bukalapak sudah memasuki  tahap penawaran awal (bookbuilding) sejak 9 hingga 19 Juli mendatang. Walaupun BEI telah memiliki sistem e-IPO, Bukalapak tidak akan menggunakan sistem ini karena pemesanan saham Bukalapak akan menggunakan sistem penjatahan atau polling allotment atau penjatahan terpusat. Sistem ini dilakukan dengan mengumpulkan semua pemesanan efek lalu penjatahan dilakukan sesuai dengan aturan.

Sistem ini memang agak sedikit rumit apabila dibandingkan dengan sistem e-IPO karena anda perlu mengisi dan menyiapkan beberapa hal sebelum pemesanan.

Apabila anda tertarik untuk membeli ini, maka pertama anda perlu mengunjungi https://about.bukalapak.com/id/investor-relations/ untuk mendapatkan informasi yang penting untuk anda pahami seperti harga saham, emisi saham, prospektus, dan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS).

Sebelum membeli, anda harus menyiapkan beberapa hal seperti single investor identification, sub rekening efek, RDN atau rekening dana nasabah, apabila belum punya maka anda mendaftar di perusahaan efek yang sudah memiliki izin OJK.

Perusahaan sub rekening efek akan membantu anda melakukan pernyataan minat pembelian saham dengan cara anda harus mengirimkan FPPS yang sudah anda download dan isi sebelumnya melalui email dan kemudian akan mereka berikan tanda tangan.

Apabila dana anda sudah berstatus good fund, maka pesanan anda akan diproses dan apabila terjadi kelebihan pesanan makan akan dilakukan penjatahan dan sisa uang anda akan di-refund. Nah, untuk kamu yang tertarik dengan saham ini semoga kebagian ya…

Penutup

IPO  merupakan kesempatan untuk anda mendapatkan saham dari perusahaan  potensial dengan harga yang cenderung lebih murah dibandingkan membeli  di pasar sekunder.

Oleh sebab itu, hal ini bisa anda manfaatkan  untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Hal lain yang harus anda  pahami adalah IPO biasanya dilakukan oleh perusahaan dengan skala besar.  

Untuk bisnis skala menengah dan kecil pelepasan saham kepada publik biasanya dilakukan dengan sistem equity crowdfunding.

Apabila anda ingin melakukan investasi bisnis ke dalam berbagai bisnis potensial di sekitar anda, maka anda harus menemukan platform equity crowdfunding terbaik untuk menemukan bisnis terbaik untuk investasi anda.

LandX merupakan platform equity crowdfunding terbaik yang bisa membantu anda  menemukan bisnis yang bisa anda beli sahamnya untuk investasi jangka  panjang. Sebagai pemegang saham, anda tentu saja berpotensi mendapatkan  keuntungan berupa dividen sesuai dengan performa bisnis yang anda danai.  Karena itu...

Yuk Mulai Investasi Bisnis dengan Hanya dengan Modal 1 Juta Bersama LandX

Biar Gak Ketinggalan Info Seputar Bisnis Terbaru Anda, Jangan Lupa Follow @landx.id di Instagram

#LandX.id     #landx         #landx.id    #InvestasiBisnis #SecuritiesCrowdfunding   #EquityCrowdfunding     #InvestasiMenguntungkan    #Urundana    #BisnisPatungan     #InvestasiUsaha

Baca Juga: