Dalam kalendar saham ada beberapa bulan yang penting Anda tandai. Jika akhir tahun yang telah berlalu ada window dressing, atau dikenal juga sebagai santa claust rally dan juga Desember hijau. Di awal tahun baru ada istilah January effect yang berpengaruh terhadap iklim dunia saham Indonesia.

January effect menurut investopedia adalah harga-harga saham yang cenderung meningkat pada awal tahun. January effect membuka peluang bagi para investor untuk membeli saham murah lalu menjualnya setelah harga naik.

Bagaimana January Effect Bisa Terjadi?

Para analis mengatakan fenomena ini umumnya terjadi karena para investor kembali entry atau pembelian kembali saham-saham yang sempat di jual pada bulan Desember lalu. Kemungkinan hal ini dilakukan untuk menghindari pajak akhir tahun.

Diperkirakan juga peningkatan pembelian terjadi karena para investor membelanjakan bonus akhir tahunnya untuk membeli saham lebih banyak. Sehingga hal ini membantu kenaikan harga saham.

Selain itu, pemikiran optimis setiap investor yang berharap awal tahun akan menjadi tahun yang baik untuk perekonomian. Sehingga melakukan investasi sebagai bentuk realisasi terhadap resolusi awal tahun baru.

Tahun 2020 dan 2021 yang lalu tidak terjadi January effect stock market, sehingga banyak investor berharap January Effect muncul kembali di tahun ini. Biasanya January Effect diikuti oleh Santa Claust Rally atau Window Dressing pada Desember lalu.

Pada Desember 2021, CEO Ara Hunter, Hendra Martono pada siaran IDX Channel mengatakan Santa Claust Rally sempat terjadi namun tidak signifikan. Apakah akan terjadi penghijauan IHSG di bulan Januari 2022 ini?

Historis January Effect Dua Tahun Ke Belakang

January effect merupakan sesuatu yang terjadi berulang setiap tahunnya, oleh sebab itu, yuk kita cek bagaimana pengaruhnya terhadap harga saham dalam 2 tahun terakhir.

  • January Effect 2020

January effect tidak terjadi di pada tahun 2020 dikarenakan gonjang-ganjing kasus asuransi Jiwasraya. Penanganan kasus asuransi Jiwasraya menjadi faktor kuat penyebab turunya nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sekaligus IHSG.

Dikabarkan awala tahun 2020 nilai ekonomis Rupiah menguat dan inflasi rendah. Namun, mengapa IHSG tidak bisa rebound pada awal tahun 2020? Seberapa berpengaruhkah kasus perusahaan asuransi tersebut?

Ada kemungkinan para investor emiten investasi ini mengurangi jumlah saham yang dipegang, bahkan hingga menjual saham yang dimiliki. Dikarenakan timbul kekhawatiran takut disalahkan, termasuk investor asing pun ikut menepis kepercayaannya. Berbagai saran penanganan kasus ini juga masih diproses sepanjang tahun 2020.

  • January Effect 2021

Kembali lagi January ‘tidak’ effect terjadi di tahun 2021. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat negatif pada penutupan Januari tahun 2021.

Walaupun berbagai negara di dunia termasuk Indonesia yakin tahun 2021 menjadi momentum pemulihan ekonomi, namun pergerakan IHSG masih variatif sehingga January effect memudar. Upaya meredam kasus covid19 dengan menyuluhkan vaksin bagi setiap warga negara yang memenuhi syarat menjadi langkah awal penanggulangan.

Sektor perbankan menjadi salah satu pemicu pada pergerakan IHSG. Jika laporan keuangan perbankan baik maka indeks untuk bertumbuh akan terbuka. Selain itu saham emiten mineral juga menopang pergerakan IHSG di Januari tahun 2021.

  • January Effect 2022

Akankah terjadi January effect di tahun ini? Sempat terjadi kekhawatiran goyahnya pasar saham karena varian baru virus covid19 yaitu Omicron. Karena kebijakan pemerintah yang bisa saja menurunkan kembali PPKM atau yang paling mengkhawatirkan adalah lockdown yang sempat membuat IHSG kebakaran pada tahun 2020.

Selain itu, tapering yang dipercepat oleh The Fed akan mempengaruhi kenaikan suku bunga bank.  Namun, tapering ini diprediksi The Fed baru akan terjadi pada kuartal III tahun 2022 atau paling cepat pada bulan Juni nanti. Sehingga di bulan Januari ini Indeks Harga Saham Gabungan belum terdampak oleh hal ini.

Tapering adalah kebijakan moneter yang mengacu pada penghentian atau pengurangan program tertentu seperti pembelian likuiditas oleh bank sentral AS, The Fed. Tapering oleh The Fed akan memengaruhi kebijakan moneter bank sentral lain di dunia. Hal ini juga berpengaruh kepada kebijakan kenaiakan suku bunga di negara tersebut.

Saran untuk emiten saham yang sebaiknya dihindari jika tapering terjadi adalah saham yang memiliki utang besar di bank. Seperti perusahaan-perusahaan konstruksi yang perlu meminjam modal bank dahulu sebelum kegiatan operasionalnya berjalan.


Baca Juga:


Sebaliknya, saham yang diuntungkan saat tapering terjadi ialah saham-saham perbankan. Tidak hanya bank-bank besar seperti BCA ataupun BRI, namun bank- bank kecil juga kena tuah untung jika terjadi tapering. Apalagi jika kenaikan suku bunga benar-benar terjadi, saham perbankan akan menampung limpahan cuan.

Analisis Saham Rekomendasi Investor

Pada pembukaan perdagangan saham hari pertama, IHSG menunjukkan sinyal positif. Untuk memaksimalkan keuntungan January Effect 2022, Frankie Wijoyo Prasetyo selaku Head of Equity Trading of MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa emiten saham perbankan dan CPO.

Emiten perbankan yang sebaiknya dikoleksi adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri Indonesia Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia (BBCA). Saham-saham CPO yang dipresiksi terus optimal yang sebaiknya dimiliki yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP), PT London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).

Diversifikasi Portofolio

Selain berinvestasi pada pasar saham, melakukan diversifikasi pada investasi sistem crowdfunding juga bisa menjadi pilihan pmenguntungkan bagi kamu. Equity crowdfunding adalah jenis investasi yang telah berizin dan diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sehingga aman untuk bisa menjadi pilihan portofolio terbaik di tahun 2022 untuk kamu.

Crowdfunding adalah sistem urun dana berbasis teknologi untuk menjadi modal suatu bisnis potensial dari masyarakat. Imbal baliknya adalah para investor akan mendapat keuntungan bagi hasil berupa dividen dan capital gain.

Di Indonesia fasilitator crowdfunding semakin berkembang, salah satunya LandX. LandX merupakan platform equity crowdfunding yang menempati posisi terdepan di antara industri equity crowdfunding Indonesia di tahun 2021 kemarin. Diharapkan jumlah investor terus tumbuh bersama LandX untuk mendukung inklusi keuangan di Indonesia.

Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK, pada Pembukaan Perdagangaan Bursa Efek Indonesia tahun 2022 mengatakan sektor finansial stabil dengan beberapa indikator. Indikator tersebut seperti permodalan yang kuat, dana masyarakat empel, suku bunga yang naik serta beberapa faktor positif lainnya.

Platform crowdfunding LandX juga muncul pada presentasi Pembukaan Perdagangan BEI Tahun 2022 sebagai penyelenggara securities crowdfunding yang potensial. Diharapkan jumlah investor terus tumbuh dan setiap bisnis semakin berkembang.

Yuk, Diversifikasi Portofolio untuk Akselerasi Capai Tujuan Finansialmu Bersama LandX

Yuk mulai patungan bisnis menguntungkan jangka panja g bersama LandX

Yuk Patungan Bisnis Menguntungkan Bareng LandX

Mau Informasi Menarik Lain Seputar Investasi? Yuk Kunjungi Instagram Kami di @landx.id


Baca Juga:


#YukPatunganBisnis