Apabila kamu merupakan investor pemula terutama yang baru terjun ke dunia saham, kamu pasti akan sering mendengar istilah window dressing terutama pada akhir tahun seperti sekarang ini.

Window Dressing adalah istilah di pasar saham dan biasa terjadi menjelang akhir tahun. Window dressing juga adalah salah satu momentum yang ditunggu para investor.

Supaya lebih paham dan siap menghadapi window dressing, yuk kita bahas apa itu window dressing dan langkah investasi yang harus dihampir saat menghadapi window dressing.


Table of Content


Apa Itu Window Dressing?

Window Dressing adalah strategi mempercantik laporan keuangan atau portofolio oleh manajer keuangan untuk meningkatkan performa kinerja sebelum disuguhkan kepada klien mereka.

Kenapa Window Dressing Terjadi?

Tujuan Window Dressing adalah untuk menarik minat investor agar yakin berinvestasi. Walau tujuannya “mempercantik” portofolio atau laporan keuangan, hal ini tetap dilakukan secara legal. Tindakan yang diambil tetap diawasi oleh regulasi yang sah dan mengikuti aturan keuangan yang berlaku.

Cara kerja Window Dressing pada portofolio saham reksadana yaitu para manajer investasi akan menjual saham yang menampakkan kerugian besar dan menggantinya dengan membeli yang sedang naik daun menjelang akhir kuartal atau akhir tahun.

Tidak hanya reksadana, taktik Window Dressing juga umum terjadi di lingkup perbankan, perusahaan finansial dan perusahaan terbuka lainnya. Karena umum terjadi di akhir tahun, fenomena Window Dressing juga dikenal dengan December Effect atau Santa Claust Rally.

Awalnya istilah window dressing merupakan kata untuk menggambarkan fenomena toko-toko di Inggris menjelang akhir tahun. Mendekati perayaan natal dan tahun baru, setiap toko akan mengganti display produknya dengan barang baru untuk menarik pembeli. Dari sinilah istilah window dressing digunakan dalam dunia investasi.

Window Dressing dan Saham

Bagaimana pengaruh window dressing terhadap IHSG? Dalam 20 tahun terkahir, IHSG (Indeks Saham Harga Gabungan) selalu hijau di bulan Desember. Sebagai informasi, IHSG hijau berarti terjadi peningkatan harga saham (bullish), berarti harga penutupan lebih tinggi daripada harga pembukaan. Hal ini merupakan pengaruh window dressing terhadap bursa efek.

Jika IHSG hijau maka saham yang berada Top 10 Big Cap biasanya hijau juga. Big cap adalah istilah untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) di atas Rp 100 triliun. Saham-saham tersebut diantaranya ialah BBCA, BBRI, TLKM, UNLV, ARTO, ASII, HMSP, BMRI hingga EMTK .

Tips Investasi Menghadapi Window Dressing Saham:

Investor sekaligus IPO Consultant, Tonny Hermawan, membeberkan tips berinvestasi menghadapi Window Dressing yang bisa kamu praktikkan:

  1. Pilih saham blue chip. Karena saham blue chip mempunyai pengaruh terhadap IHSG. Blue chip adalah saham dengan kapitalisasi market di atas 40 triliun, sehingga likuiditasnya bagus atau mudah diperjualbelikan.
  2. Lakukan analisa fundamental dan analisa teknikal. Teliti sebelum membeli, lakukanlah analisa fundamental melalui laporan keuangan perusahaan dan analisa teknikal.  Analisa teknikal saham dapat dilakukan dengan melihat pergerakan harga dan melihat harga tertinggi dan terendah pada periode tertentu.
  3. Alokasikan dana untuk investasi. Sisihkan penghasilan kamu sebesar 10-30% untuk berinvestasi, pastikan juga keuangan kamu selalu dalam keadaan sehat.
  4. Akumulasi pembelian bulan Oktober dan November. Khususnya bagi investor aktif dan trader, sebaiknya telah mempersiapkan diri dengan melakukan pembelian saat bulan Oktober dan November. Tujuannya agar dapat melakukan profit taking apabila terjadi Window Dressing di bulan Desember dengan IHSG hijau dan di bulan January saat January Effect.

Baca Juga:


Window Dressing dan Omicron di Indonesia

Varian baru Covid19 yaitu Omicron yang ditemukan di Afrika Selatan ini sempat menuai kekhawatiran. Sebab, virus ini dikabarkan lebih menular dari varian-varian sebelumnya. Kondisi ini juga membuat investor berlarian di pasar saham.

Merebaknya kasus virus Omicron ke dalam negeri membuat pemerintah menegaskan level PPKM hingga naik menjadi level PPKM Level II. Diharapkan virus ini tidak meningkatkan jumlah kasus secara signifikan sehingga tidak dilakukan rem lockdown.

Oleh sebab itu, window dressing mungkin saja tidak terjadi apabila kondisi yang belum stabil karena efek kemecamasan masyarakat akan efek dari covid varian ini. Akan tetapi, kamu tidak perlu begitu khawatir karena masih ada January Effect yang bisa membawa terbang portofolio kamu.

Prospek Investasi di Tahun 2022

Untuk investor, perlu kenal istilah Janurary Effect atau kecenderungan harga saham yang naik di awal tahun. January Effect bisa disebabkan oleh bonus akhir tahun, semangat investasi tahun baru yang meningkat, dan sikap optimis para investor dengan ekonomi di tahun terkait.

January Effect juga bisa akibat dari Window Dressing pada bulan Desember tahun sebelumnya. Karena para investor besar di bulan Desember yang sempat menjual saham-saham yang rugi untuk mempercantik portofolionya akan membeli kembali saham-saham yang masih rugi tersebut di bulan Januari. Biasanya saham ini adalah saham mid-small bukan blue chip.

Prospek saham yang bisa diburu di tahun 2022 menurut Budi Hikmat, Marketing Advisor PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, diantaranya adalah saham sektor mining. Prospek sektor mining memiliki prospek yang bagus dan diprediksi sebagai The Next Booming.

Salah satu sektor mining berpotensi baik adalah batu bara. Hal ini juga sesuai dengan keputusan terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk meningkatkan produksi batubara, harga saham batu bara ikut melonjak naik. Sektor yang berkaitan dengan rantai distribusi batu bara seperti kapal angkut atau kapal tongkang juga keciptaran untung.

Fajar R Hidajat dari Syailendra Capital pada CNBC seiring dengan pendapat Anneke Wijaya selaku Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi menuturkan beberapa sektor lainnya yang memiliki prospek terang di tahun yang akan datang. Prospek investasi di tahun 2022 ada pada sektor perusahaan teknologi, Bank, dan beberapa emiten komoditas pilihan.

Sebaliknya saham yang kurang menunjukkan wajah cerianya di tahun 2022 diprediksi saham poultry atau saham emiten unggas. Saham ini dikabarkan anjlok dan diobral murah pada tahun 2021. Hal ini disebabkan kesenjangan pada persediaan dan permintaan akan kebutuhan. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan yang positif pada sektor ini.

Berinvestasi di Saham Potensial Tahun 2022

Seperti pembahasan sebelumnya, saham yang dikabarkan bersinar di tahun depan adalah saham batu bara. Tentunya semua hal berkaitan dengan bisnis batu bara akan ketiban dampak positif.

Bisnis batu bara tidak hanya cukup di pertambangan tapi juga butuh didistribusikan. Bisnis kapal angkut seperti kapal tongkang bakal ikut meraup cuan. Kapal angkut yang ada saat ini pun kabarnya sudah memiliki antrian calon pelanggan.

Bisnis kapal angkut hasil bumi seperti batu bara ini merupakan bisnis yang memiliki kebutuhan permintaan yang tinggi, untuk memasuki industri bisnis ini pun tentu memerlukan modal miliaran. Namun kini kamu bisa dapat jadi juragan kapal dengan modal investasi satu jutaan.

Saat ini di LandX terdapat bisnis kapal tongkang atau kapal tug dan barge sedang listing. Kesempatan kamu untuk dapat menjadi bagian pemilik kapal dengan modal paling rendah. Investasi Rp 1 juta langsung dapat dua kapal yang akan berlayar di tahun 2022. Kapan lagi bisa jadi bos bisnis keren ini!

Karena itu,

Segera cek projectnya dan jadi juragan bisnis kapal sekarang juga sebelum keduluaaan!

Cara-jadi-pemilik-bisnis-kapal-tongkang-cuma-dengan-modal-1-juta-rupiah


Mau Informasi Menarik Lain Seputar Investasi? Yuk Kunjungi Instagram Kami di @landx.id


Baca Juga:


#YukPatunganBisnis