Pernah nggak kamu ngalamin baru saja gajian tapi uang tiba-tiba habis? Bukan untuk beli hal-hal konsumtif seperti barang pribadi, tapi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri serta orang tua.

Jika kamu pernah mengalaminya, maka kamu sedang berada dalam fase sandwich generation.

Apa artinya? Secara sederhana, sandwich generation adalah keadaan 'terjepit' dimana kamu harus menanggung dua beban keuangan sekaligus, yakni untuk keluargamu sendiri serta orang tua.

Generasi sandwich ini cukup sering dijumpai di Indonesia. Kita tahu masih banyak orang tua disini yang mengharapkan sebuah 'balas budi finansial' dari anaknya setelah dewasa.

Meskipun secara moral hal ini sangat bagus, namun di sisi lain dapat menambah tekanan dan beban bagi sang anak. Apalagi jika mereka sudah punya keluarga sendiri yang harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Keadaan seperti ini memang berat, namun bukan berarti mustahil buat kamu untuk menyelesaikannya. Berikut ini penjelasan sandwich generation, dari mulai pengertian sampai cara memutusnya. Simak terus sampai akhir, ya!


Table of Content


Apa Itu Sandwich Generation?

Apa sebenarnya pengertian dari sandwich generation? Sesuai namanya, istilah ini menggambarkan kondisi seseorang yang "ter-sandwich" oleh dua beban sekaligus.

Pertama, beban untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anaknya sendiri seperti biaya hidup sehari-hari, cicilan kendaraan, dan lain-lain.

Kedua, orang tersebut juga harus mencukupi kebutuhan orang tuanya sendiri seperti biaya rumah sakit, cicilan rumah, dan lain-lain.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor asal Amerika Serikat dalam jurnalnya yang berjudul "The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging."

Karena tekanan yang berasal dari dua sisi sekaligus, tentu hal ini akan memicu datangnya masalah lain seperti terganggunya pekerjaan, kehidupan sosial, sampai konflik rumah tangga. Bahkan tak jarang orang yang mengalami sandwich generation ini akan mengalami depresi hebat hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Jenis-jenis Sandwich Generation

Di media sosial, banyak orang tua milenial yang mengeluh soal sandwich generation. Mereka terhimpit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang masih baru serta kebutuhan orang tuanya yang mulai memasuki fase lansia.

Sebenarnya kondisi ini tidak hanya menimpa milenial saja, tapi juga orang dalam rentang usia lain. Berikut ini jenis-jenis sandwich generation:

1. Sandwich Generation Tradisional

Biasanya menimpa orang tua berusia sekitar 40 sampai 50 tahun. Mereka terimpit oleh dua beban keuangan sekaligus, yakni untuk memenuhi beban anaknya yang sudah beranjak dewasa namun masih perlu dukungan finansial, serta orang tuanya sendiri yang sudah sakit-sakitan.

Jenis ini bisa dibilang yang paling umum kita temukan dalam lingkungan sehari-hari di mana seseorang harus menghidupi dua keluarga sekaligus karena kondisi yang tidak terelakan.

2. The Club Sandwich Generation

Ada dua rentang usia yang biasanya masuk dalam kategori ini.

Pertama, mereka yang sudah berusia 50 sampai 60 tahun yang harus mencukupi kebutuhan orang tuanya yang sudah lansia serta anak-anaknya. Tak jarang mereka juga harus menanggung kebutuhan cucunya sendiri.

Kedua, mereka yang berusia 30 sampai 40 tahun. Selain menanggung anak-anaknya yang masih kecil dan beranjak dewasa, mereka juga harus menanggung beban orang tua serta tak jarang kakek neneknya.

Seperti yang kita tau, masyarakat kawasan Asian sebagian besar memiliki budaya kolektif dan hidup dalam kelompok besar. Oleh sebab itu, generasi sandwich jenis ini pasti akan sering ditemui di sekitar kita.

3. Open Faced Sandwich Generation

Jenis terakhir adalah mereka — tanpa memandang usia — yang terlibat dalam perawatan orang lanjut usia, namun aktivitas tersebut bukan dilakukan dengan profesional. Artinya mereka tidak mendapatkan penghasilan dari merawat orang tua tersebut.

Kondisi ini cukup membingungkan karena di satu sisi mereka perlu berbakti kepada orang tua tapi di sisi lain mereka butuh pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Cara Memutus Rantai Sandwich Generation

Akar utama dari sandwich generation disebabkan oleh generasi sebelumnya yang gagal secara finansial. Generasi yang terdampak kemudian mewariskannya kembali ke generasi selanjutnya.

Jika tidak diputus rantainya, mustahil bagi sebuah keluarga bisa memutus siklus sandwich generation.

Untuk memutus rantai generasi sandwich ini memang sangat sulit, namun bukan berarti mustahil. Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk memutus rantai sandwich generation.

1. Kelola Keuangan dengan Baik

Mengelola keuangan memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Meski begitu, kamu tetap bisa merencanakannya dengan baik.

Gimana caranya? Yang pertama, lakukan pencatatan pengeluaran setiap bulan. Dari pencatatan itu, kamu bakal tau pos apa yang harusnya kamu jadikan sebagai prioritas utama dalam anggaran keuangan.

Setelah membuat prioritas, nantinya kamu bakal bisa memprediksi berapa uang yang harus dikeluarkan untuk bulan depan. Hal ini sangat berguna agar dana yang kamu siapkan sudah cukup dan tidak keteteran di masa depan.

Mengelola uang dengan tepat menjadi langkah awal yang harus kamu lakukan untuk memutus lingkaran setan di lingkungan kita. Selain itu, kita perlu menyusun strategi pengelolaan uang yang baik agar kita melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.

2. Berhati-hati dengan Utang Konsumtif

Setelah mengelola keuangan dengan baik, selanjutnya kamu harus sebisa mungkin menghindari utang. Hindari utang yang bersifat konsumtif seperti membeli barang mewah secara kredit.

Utang merupakan salah satu akar utama dalam sandwich generation. Pasalnya, banyak anak yang harus menanggung beban utang yang ditinggalkan oleh orang tuanya di masa lalu.

Karena itu, selain mengelola uang yang dimiliki kita juga harus bisa mengatur pola konsumsi kita agar tidak menyebabkan hutang konsumtif yang berdampak buruk terhadap keuangan jangka panjang anda.

3. Siapkan Dana Pensiun

Dana pensiun selalu menjadi masalah inti dalam sandwich generation. Untuk menghentikannya, kamu bisa mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin. Hal ini agar kamu tidak membebani generasi selanjutnya seperti anak dan cucu di masa depan.

Selain itu, dana pensiun juga akan memberikan manfaat lain secara mental. Kamu bakal lebih siap secara finansial dan bisa menghabiskan masa tua dengan lebih tenang.

Menyiapkan rencana pensiun sebaiknya kita siapkan sedini mungkin karena kita harus bisa menyusun rencana proyeksi keuangan jangka panjang kita agar tidak menyulitkan generasi berikutnya.

Jumlah dana pensiun ideal memang sebenarnya berbeda-beda untuk setiap orang, tapi kamu bisa mulai menyusun rencana untuk mencapai financial freedom agar hingga hari tua kita tidak perlu bergantung kepada orang lain.

4. Menambah Penghasilan

Cara selanjutnya yang bisa kamu coba adalah dengan menambah penghasilan tambahan. Gimana caranya? Salah satunya dengan mencoba bekerja secara freelance saat weekend. Manfaatkanlah skill yang sudah kamu kuasai dan cobalah mencari klien.

Selain freelance, kamu juga bisa memanfaatkan aset berlebih yang kamu punya seperti tanah. Ketimbang tidak terpakai, sebaiknya tanah tersebut kamu sewakan. Sehingga di masa depan kamu bisa mendapatkan penghasilan yang bersifat pasif.

5. Siapkan Dana Darurat dan Asuransi

Dana darurat dan asuransi akan sangat kamu rasakan manfaatnya di masa depan. Banyak sekali sandwich generation yang harus menanggung beban saat orang tuanya masuk rumah sakit. Hal ini karena mereka tidak menyiapkan asuransi ataupun dana darurat di masa lalu.

Tidak memiliki asuransi menjadi salah satu faktor yang banyak orang menjadi sandwich generation dari waktu ke waktu.

Hal ini karena biaya perawatan rumah sakit apalagi untuk penyakit yang butuh perawatan jangka panjang membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga generasi berikutnya harus menanggung biaya ini apabila kita memiliki dana darurat dan asuransi.

Apabila kita tidak memiliki asuransi dan dana darurat, maka kondisi ini akan menyebabkan masalah finansial seperti berhutang. Karena itu kita perlu menyiapkan hal ini dengan baik agar tidak menyebabkan masalah keuangan untuk keturunan kita di masa mendatang.

6. Mulai Investasi Sejak Dini

Cara yang terakhir adalah dengan melakukan investasi sejak dini. Selagi beban masih belum terlalu besar, sebaiknya kamu sisihkan untuk investasi.

Ada banyak sekali jenis investasi yang bisa kamu coba, salah satunya adalah LandX.

LandX merupakan tempat dimana kamu bisa berinvestasi patungan terhadap perusahaan UMKM terbaik yang ada di Indonesia. Cukup dengan Rp 1 Juta, kamu sudah bisa mulai berinvestasi dan mendapatkan keuntungan di masa depan.

Tunggu apa lagi? Ayo berinvestasi di LandX sekarang juga!

Bagaimana? Kamu lebih suka bisnis dengan buyback guarantee atau yang bisa disimpan dalam jangka panjang? Apapun pilihan kamu.. Yuk Patungan  dengan Keuntungan Menjanjikan Bareng LandX

Mau Berbagai info Terbaru Terkait Investasi? Yuk Follow @landx.id di Instagram


Baca Juga:


#YukPatunganBisnis    #LandX.id    #landx         #landx.id    #InvestasiBisnis  #SecuritiesCrowdfunding   #EquityCrowdfunding    #InvestasiMenguntungkan     #Urundana    #BisnisPatungan    #InvestasiUsaha