Investor Penerbit
menu-mobile

Perbedaan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate dan BI Rate

21 November 2022

|

6 Min Read

|

Author: Umar Tusin
Perbedaan BI rate dan BI 7-day

Perbedaan BI rate dan BI 7-day terletak pada teknis laju uang yang ditarik atau dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Teknis ini akan mempengaruhi cepat atau lambatnya perubahan inflasi.

BI 7-Day (Reverse) Repo Rate adalah kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengendalikan laju inflasi. Kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan. BI 7-Day (Reverse) Repo Rate ditetapkan setiap bulan oleh Bank Indonesia yang didahului dengan rapat anggota dewan gubernur dengan meninjau kondisi keuangan secara umum di dalam dan luar negeri.

Salah satu faktor terpenting yang menentukan BI 7-Day (Reverse) Repo Rate adalah inflasi. Harga barang dan jasa secara umum akan naik atau turun akibat dari naik turunnya inflasi. Jika inflasi meningkat, Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan. Sebaliknya, Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga acuan pada saat inflasi turun.

Perbedaan BI Rate dan BI 7-Day

Untuk memahami apa itu reverse repo dan BI rate kamu perlu terlebih dahulu memahami perbedaan BI rate dan BI 7-day. BI 7-Day (Reverse) Repo Rate diterapkan sejak 16 Agustus 2016 menggantikan kebijakan BI Rate.  Pada dasarnya BI 7-Day (Reverse) Repo Rate dan BI Rate memiliki tugas yang sama yaitu mengendalikan inflasi dan mengatur uang yang beredar di masyarakat melalui suku bunga. Terdapat perbedaan teknis laju uang yang ditarik atau dikeluarkan oleh Bank Indonesia.  Untuk lebih jelasnya simak perbedaan BI rate dan BI 7-day berikut ini.

Apa yang Dimaksud dengan BI Rate?

BI Rate adalah suku bunga suku bunga yang mencerminkan kebijakan moneter yang ditetapkan dan diumumkan secara terbuka oleh Bank Indonesia. Suku bunga tersebut diterapkan dalam SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Jadi, bank-bank umum yang ‘membeli’ SBI menyimpan dana mereka di Bank Indonesia selama jangka waktu 12 bulan. Setelah satu tahun, bank umum yang membeli SBI akan menerima pendapatan bunga tahunan sesuai tingkat suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia. Semakin tinggi BI rate maka semakin besar bank umum untuk mendapat keuntungan dari SBI.

Selain itu dengan BI rate yang naik juga diharapkan bank konvensional menaikan bunga deposito sehingga membuat masyarakat tertarik menaruh uang di bank. Jadi, semakin besar BI Rate maka semakin sedikit uang yang beredar di masyarakat dan inflasi akan menurun.

Memahami BI 7-Day (Reverse) Repo Rate

Setelah inflasi turun, pada umumnya Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga dan mengupayakan untuk menambah peredaran uang di masyarakat. Namun, bukan berarti masalah selesai ketika suku bunga turun.

Uang yang dipegang bank di Bank Indonesia tidak bisa langsung ditarik karena bank harus menunggu satu tahun. Oleh karena itu jumlah uang beredar tidak langsung bertambah.

Batasan waktu tersebut mendorong Bank Indonesia untuk berinisiatif menerapkan BI 7-day (reverse) repo rate. Seperti namanya, BI 7-day (reverse) repo rate lebih pendek dari BI rate.

Dengan kebijakan BI 7-day (reverse) repo rate, lembaga perbankan tidak lagi harus menunggu hingga satu tahun untuk mencairkan dananya. Bank umum bisa segera menarik uang setelah disetorkan ke Bank Indonesia selama 7 hari (bisa 14 hari, 21 hari, dan kelipatan 7 seterusnya). Selain itu, pengembalian kepada bank umum juga ditambah dengan jumlah bunga seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Mekanisme Transaksi Repo dalam Investasi

Sebelum mengetahui mekanisme dan saham repo, kamu perlu mengetahui definisi Repo itu sendiri. Repurchase Agreement atau yang disebut Repo adalah kontrak jual atau beli suatu efek dengan perjanjian akan membeli atau menjual kembali efek tersebut pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. Lantas, apakah repo aman?

Jika dilihat dari legalitasnya, transaksi repo merupakan transaksi yang aman karena sudah diatur dalam Peraturan OJK No. 9/POJK.04/2015 atau yang disebut POJK Repo.

Pada Pasal 4 ayat 1 menyatakan bahwa setiap transaksi Repo wajib berdasarkan pada perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut adalah Global Master Repurchase Agreement (GMRA) yang diterbitkan oleh International Capital Market Association (ICMA). Pada dasarnya Repo merupakan alat investasi yang bisa mengakibatkan keuntungan dan kerugian seperti halnya instrumen investasi lainnya.

Repo dikategorikan sebagai instrumen pasar uang dan pinjaman jangka pendek dengan jaminan dan berbunga. Pembeli bertindak sebagai pemberi pinjaman jangka pendek sementara penjual bertindak sebagai peminjam jangka pendek. Efek yang dijual adalah sebagai jaminan. Dengan demikian, tujuan kedua belah pihak, yaitu pembiayaan yang aman dan likuiditas dapat tercapai.

Kondisi repurchase agreement  bisa dilakukan oleh bank sentral dengan mengadakan perjanjian Repo untuk mengatur jumlah uang beredar dan cadangan bank. Sedangkan individu biasanya menggunakan kontrak ini untuk membiayai pembelian surat utang atau investasi lainnya. Perjanjian Repo adalah investasi jangka pendek, dan jangka waktunya disebut sebagai “bunga” atau “jatuh tempo”. Jadi, repo dan reverse repo adalah bunga repo yang disepakati oleh peminjam dan pemberi pinjaman.

Saham Repo

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Repo adalah kontrak jual atau beli suatu efek. Jadi dalam transaksi Repo bisa melibatkan efek saham atau obligasi.

Jadi apa itu saham Repo? Saham repo adalah merupakan efek yang bisa diperjualbelikan sekaligus sebagai penjamin dalam transaksi Repo. Jadi bisa dikatakan repo saham adalah suatu perjanjian pinjaman dana dengan jaminan saham atau surat utang

Dalam transaksi Repo, biasanya perusahaan akan menjual saham yang dapat dibeli untuk mendapatkan pinjaman dana dari investor. Jika peminjam tidak melunasi pinjaman pada saat jatuh tempo, pemberi pinjaman (investor) berhak menyita saham yang diberikan oleh peminjam sebagai jaminan. Jika peminjam menggunakan saham sebagai jaminan, maka nilai pinjaman yang didapatkan adalah sebesar 50% dari total saham yang digunakan.

Kasus Repo

Meski sudah diatur Peraturan OJK No. 9/POJK.04/2015, lembaga keuangan beberapa kali kedapatan menggunakan Repo sebagai sarana pencucian uang. Contoh kasus Repo yang merugikan negara adalah kasus Repo yang melibatkan PT Danareksa Sekuritas dan PT Evio Sekuritas.

Kasus Repo ini berawal dari PT Danareksa Sekuritas yang memberikan pembiayaan (pinjaman) kepada PT Evio Sekuritas sebesar Rp105 miliar yang dilakukan sejak September 2014 sampai November 2015. Jaminan yang diberikan PT Evio Sekuritas kepada PT Danareksa Sekuritas adalah berupa saham SIAP yang tidak memenuhi syarat dan memberikan pembiayaan trading (perdagangan saham) dengan tidak sesuai limit transaksi, sehingga melanggar surat Keputusan Komite Pengelolaan Risiko PT Danareksa Sekuritas Nomor 001/KPR-DS/2011.

Selain itu, sampai jatuh tempo saham SIAP tidak dibeli kembali oleh PT Evio Sekuritas (pemegang saham), karena uang tersebut sudah digunakan dalam tindak pencucian uang yang dilakukan oleh pemilik modal dan para petinggi PT Evio Sekuritas.

Memilih Saham Aman dalam Investasi

Para investor yang menggunakan skema Repo harus lebih berhati-hati dalam memilih saham yang ditawarkan sebagai jaminan. Tak hanya investor Repo, pada dasarnya investor yang membeli saham apapun harus mempelajari saham tersebut agar terhindar dari risiko-risiko kerugian. Mempelajari saham perusahaan bisa dimulai dari membaca profil perusahaan, skema bisnis, dan laporan keuangan perusahaan tersebut. 

Saat ini, saham tidak hanya ditawarkan oleh perusahaan besar, bisnis UMKM pun bisa mengeluarkan saham dan memperdagangkan sahamnya. Salah satu cara UMKM menawarkan sahamnya adalah melalui skema equity crowdfunding. Equity crowdfunding adalah urun dana yang dilakukan oleh investor untuk bisnis atau UMKM yang ingin memulai atau mengembangkan bisnisnya.

Caranya, investor hanya perlu masuk ke platform equity crowdfunding dan memilih saham bisnis yang akan diinvestasikan. Salah satu platform equity crowdfunding berizin OJK adalah LandX.

Tak hanya membeli saham UMKM, LandX juga menyediakan prospektus perusahaan yang berisi informasi perusahaan, skema bisnis, laporan keuangan, hingga proyeksi keuntungan. Investor yang membeli saham akan mendapatkan dividen sesuai dengan proyeksi keuntungan yang ada di dalam prospektus. 

Ayo Dapatkan Saham UMKM Mulai Rp 1 Jutaan di LandX!