menu-button
Cara Investasi di Securities Crowdfunding Investasi Keuangan Bisnis

Memahami Apa Itu Resesi, Depresi, dan Krisis Ekonomi

Friday, 20 Aug 2021

Read in 7 minutes

Author: Abdul Wahhab

Yuk pahami apa itu resesi, depresi, dan krisis ekonomi serta dampaknya kepada masyarakat.

Belakangan, kamu pasti sering mendengar isu inflasi yang melanda ekonomi banyak negara karena pandemi Covid-19 yang menghambat pergerakan ekonomi global.

Resesi ekonomi adalah kondisi saat perekonomian suatu negara mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi resesi ini tengah melanda banyak negara akibat terhambatnya berbagai aktivitas ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Resesi artinya ekonomi suatu negara mengalami penurunan selama dua kuartal atau 6 bulan berturut karena berbagai faktor yang menyebabkan melemahnya pergerakan ekonomi suatu negara.

Akan tetapi, apakah kamu tau bahwa selain resesi sebenarnya banyak negara juga sedang terancam menghadapi depresi ekonomi yang terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang minus dalam jangka panjang.

Depresi ekonomi adalah kondisi yang lebih parah dibandingkan resesi karena kondisi depresi ekonomi terjadi saat ekonomi suatu negara mengalami penurunan secara berturut-turut selama 4 kuartal.

Hal ini tentu saja mempengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat sehingga perlu kita waspadai apabila terjadi di masa mendatang. Karena itu, yuk kita bahas lebih dalam tentang resesi, depresi dan krisis ekonomi serta bagaimana strategi untuk menghadapi hal ini di masa mendatang.


Apa Itu Resesi Ekonomi?

Pertama-tama, mari kita bahas dahulu apa itu resesi agar kita paham langkah seperti apa yang bisa kita ambil apabila kondisi seperti ini terjadi di masa mendatang.

Resesi ekonomi adalah kondisi di mana perekonomian suatu negara mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut. Resesinya artinya ekonomi suatu negara mengalami penurunan secara berturut-turut selama dua kuartal.

Resesi biasanya ditandai dengan melemahnya produk domestik bruto (PDB), semakin banyak pengangguran karena keterbatasan lapangan kerja, dan terpuruknya berbagai sektor industri.

Selama pandemi, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami resesi karena ekonomi yang mengalami minus selama dua kuartal berturut-turut pada kuartal II dan III-2020.

Hal ini terjadi karena pembatasan kegiatan masyarakat sehingga berbagai kegiatan ekonomi tidak bisa berjalan dengan optimal.

Indonesia Terjerat Resesi 2022?

Sri Mulyani menyebut sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih terkendali seperti neraca pembayaran APBN, ketahanan PDB, hingga kinerja korporasi dan konsumsi rumah tangga. Sri Mulyani pun menegaskan potensi Indonesia mengalami resesi relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain. 

Survei terbaru belum menyebutkan Indonesia masuk ke dalam negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi. Dari daftar 15 negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi, Indonesia berada di peringkat 14 dengan persentase 3%. Inflasi di Indonesia cenderung rendah dibandingkan negara-negara lain. 

Bukan berarti persentase lebih rendah daripada negara lain membuat pemerintah akan lengah. Pemerintah akan mengerahkan berbagai instrumen kebijakan untuk mengendalikan kondisi ekonomi. Seperti berkomitmen terus memberikan subsidi untuk menahan kenaikan harga energi dengan anggaran 520 Triliun Rupiah.

Jadi, sekarang kamu sedikit banyaknya sudah paham bukan apa yang dimaksud dengan resesi? Kalau sudah, yuk berikutnya kita bahas tentang depresi ekonomi.

Apa Itu Depresi Ekonomi?

Kalau kamu masih bingung apa yang dimaksud dengan depresi ekonomi, simpelnya depresi ekonomi merupakan resesi yang terjadi dalam jangka panjang

Depresi ekonomi adalah kondisi di mana penurunan ekonomi terjadi selama empat kuartal berturut-turut atau lebih. Artinya depresi bisa diartikan sebagai resesi yang terjadi dalam periode jangka waktu yang cukup panjang sehingga memiliki dampak yang lebih buruk dibandingkan resesi.

Indonesia sendiri sebenarnya hampir saja mengalami depresi ekonomi, namun untungnya ekonomi Indonesia akhirnya menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal II-2021 sehingga kita dapat terhindar dari jurang resesi.

Krisis Ekonomi

Selanjutnya, krisis adalah posisi di mana sistem perekonomian suatu negara mengalami shock yang menyebabkan adanya kontraksi pada berbagai instrumen perekonomian sehingga menyebabkan gangguan pada berbagai sektor.

Berbeda dengan resesi dan depresi, krisis ekonomi tidak hanya mengacu pada pertumbuhan ekonomi saja namun juga mengacu pada laju inflasi, nilai tukar uang, dan berbagai indikator ekonomi lainnya.

Apakah resesi sama dengan krisis keuangan?

Terdapat perbedaan resesi dan krisis keuangan yang dilihat dari dampaknya, dampak resesi lebih besar.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya bahwa resesi adalah kondisi kemunduran ekonomi (PDB) selama 2 kuartal berturut-turut. Sedangkan krisis keuangan adalah penurunan ekonomi secara drastis. Penurunan ekonomi 1 kuartal saja sudah bisa disebut sebagai krisis keuangan. 

Penyebab penurunan ekonomi dari resesi dan krisis keuangan adalah laju inflasi yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Penyebab Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi bisa saja karena berbagai faktor yang menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi suatu negara mengalami perlambatan. Berikut beberapa faktor penyebab resesi:

1. Guncanangan Ekonomi Tiba

Salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya resesi adalah adanya guncangan ekonomi tiba-tiba terjadi yang membuat pergerakan ekonomi menjadi terhambat.

Salah satu contoh guncangan ekonomi global yang belakangan ini melanda kita adalah virus Covid-19 yang menjadi guncangan hebat bagi hampir seluruh negara di dunia.

Guncangan ini menyebabkan berbagai kegiatan ekonomi terhambat karena perbatasan mobilitas masyarakat. Indonesia sendiri selama pandemi telah mengalami resesi dan hampir saja terjerumus ke dalam jurang depresi akibat dari pandemi Covid-19.

2. Perlonjakan Utang

Utang yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya resesi di suatu negara. Apabila suatu bisnis/ individu memiliki hutang terlalu banyak maka potensi gagal bayar dan kebangkrutan menjadi ancama serius yang dapat membalikkan perekonomian suatu negara.

3. Peningkatan Inflasi

Pelonjakan inflasi dalam jangka panjang juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya resesi di suatu negara. Kondisi inflasi sebenarnya hal yang wajar, tapi pelambungan terlalu tinggi dan terjadi dalam waktu yang singkat tentu saja berbahaya dan bisa menguncang perekonomian suatu negara.

4. Perubahan Teknologi

Saat ini, teknologi menggantikan banyak sekali peran manusia sehingga banyak bidang pekerjaan sudah digantika oleh robot. Hal ini di satu sisi mempermudah perkerjaan manusia tapi juga menjadi ancaman karena bisa menyebabkan hilangnya banyak lapangan pekerjaan.

Hal ini bisa menjadi salah satu pemicu resesi karena semakin tingginya angka pengangguran akibat dari peralihan teknologi tersebut. Oleh sebab itu, kemajuan teknologi ini menjadi hal yang dikhawatirkan banyak orang di masa mendatang.

5. Deflasi

Kondisi resesi deflasi ditandai dengan turunnya harga barang dan jasa. Deflasi adalah disinflasi yang berarti penurunan tingkat inflasi dalam jangka waktu tertentu. Turunnya harga barang dan jasa tentu terlihat menjadi hal yang menguntungkan bagi masyarakat, namun tidak bagi pemilik usaha.

Harga yang turun membuat keuntungan perusahaan ikut menurun sehingga untuk meminimalisir pengeluaran, pemilik usaha akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Terjadinya PHK membuat jumlah pengangguran meningkat, pengangguran meningkat membuat jumlah tingkat kemiskinan menanjak, dan daya beli menurun. Untuk memperbaiki semua kondisi keuangan ini tentu akan sulit dan membutuhkan usaha besar dari pemerintah.


Baca Juga:


Dampak dari Resesi dan Depresi Ekonomi

Resesi dan depresi memiliki dampak yang luas ke berbagai sektor mulai dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat. Bagi pemerintah resesi dan depresi menyebabkan lonjakan pinjaman karena pendapatan negara pun ikut turun karena berbagai kegiatan ekonomi tidak berjalan dengan baik.

Oleh sebab itu, pemerintah mengalami lonjakan pengeluaran karena mereka harus mengalokasikan dana untuk subsidi dan stimulasi ekonomi untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat.

Bagi bisnis, resesi dan depresi tentu saja memiliki dampak yang sangat buruk mulai dari kredit macet hingga menyebabkan kebangkrutan. Hal ini karena resesi menyebabkan pendapatan negara menjadi minus sehingga menyebabkan kerugian.

Bangkrutnya banyak bisnis tentu saja akan diikuti meningkatnya pengangguran dikarenakan banyak usaha harus tutup karena tidak bisa bertahan selama masa resesi.

Dampak Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi adalah situasi yang memiliki dampak pada berbagai pihak seperti pemerintah, pemilik usaha, dan masyarakat.

Pemilik Usaha

Seperti ulasan beberapa penyebab resesi ekonomi yaitu deflasi yang menyebabkan penurunan pendapatan usaha, membuat pemilik usaha terancam gulung tikar. Untuk menjaga tingkat pengeluaran tidak melebihi pendapatan yang rendah, perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja.

Masyarakat

Sisi masyarakat yang terdampak resesi ekonomi adalah pekerja. Lesunya perekonomian membuat perusahaan berhemat dan akan memicu pemutusan kontrak kerja, dan pekerja kehilangan pekerjaan.

Pemerintah

Terjadinya penurunan pendapatan dari berbagai sektor usaha yang berujung pada pemecatan karyawan dan menimbulkan gelombang pengangguran baru. Meningkatnya jumlah pengangguran akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat karena pemasukan yang terbatas.

Daya beli masyarakat yang turun akan berdampak pada lesunya perekonomian dan perusahaan menurunkan aktivitas produksi. Sehingga untuk memperbaiki semua kondisi ini akan membutuhkan biaya dan usaha yang besar.

Lalu, Bagaimana Menangani Resesi dan Depresi?

Salah langkah yang sering diambil pemerintah adalah dengan melakukan belanja besar-besaran sehingga membantu ekonomi dapat bergerak dengan optimal kembali. Oleh sebab itu, dalam menghadapi resesi pemerintah akan sering melakukan stimulasi untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Saran ekonom terhadap investor di kondisi resesi yaitu strategi wait and see. Serta sektor komoditas memiliki nilai yang baik dan akan diuntungkan jika resesi terjadi.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Salah satu yang bisa kita lakukan untuk membantu UKM agar mereka dapat berkembang dengan optimal walaupun di tengah terjangan pandemi, adalah dengan menambah perpanjangan nafas mereka lewat permodalan.

Yuk Temukan Bisnis Menjanjikan dengan Keuntungan Terbaik di LandX

miliki bisnis modal kecil cuma dengan 1 jutaan dapat 4 cabang

Agar Gak Kelewatan Berbagai Info Seputar Bisnis dan Investasi Lainnya Follow Instagram Kami di @landx.id Ya..


Baca Juga:


#YukPatunganBisnis

Baca Juga