Stock split adalah kebijakan yang dilakukan oleh emiten/ perusahaan penerbit di mana mereka melakukan split atau pemecahan nilai saham mereka dengan rasio yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam beberapa waktu belakangan, kamu pasti sering mendengar istilah ini karena salah satu emiten besar yaitu bank BCA atau emiten BBCA melakukan stock split baru-baru ini. Sebelum BBCA, ada beberapa emiten lain yang sebelumnya pernah melakukan stock split seperti emiten UNVR atau Unilever yang melakukan stock split pada awal 2020 lalu.

Kebijakan stock split sendiri dilakukan dengan alasan yang berbeda-beda tergantung dengan korporasi yang mengambil kebijakan ini.

Biar kamu lebih paham lagi tentang stock split, yuk kita bahas apa itu stock split dan apakah stock split menguntungkan atau tidak bagi para investor.


Table of Content


Apa Itu Stock Split?

Seperti yang sudah sekilas kita bahas sebelumnya, stock split adalah kebijakan korporasi memecah nilai saham mereka dengan rasio yang telah ditentukan sebelumnya. Salah satu alasan kebijakan ini diambil adalah untuk menurunkan harga saham sehingga dapat dijangkau oleh investor yang lebih luas lagi.

Adanya stock split juga membuat lembar saham yang beredar menjadi semakin banyak, namun tidak mengubah jumlah modal yang disetorkan.

Contohnya, adalah saham BBCA yang melakukan split dengan rasio 1:5 sehingga harga nominal saham yang awalnya sekitar Rp 70 bisa menjadi Rp 14 sehingga menjadi jauh lebih terjangkau bagi para investor dan jumlah lembar saham yang beredar menjadi 5x lebih banyak dari sebelumnya.

Apakah Stock Split Menguntungkan Investor?

Sebagai investor kamu pasti bertanya-tanya bukan, apakah stock split ini memberikan keuntungan atau malah menyebabkan kerugian.

Stock split merupakan kebijakan yang menguntungkan baik dari sisi investor maupun investor. Bagi investor, saham menjadi lebih terjangkau sehingga likuiditas dari saham tersebut menjadi meningkat.

Harga yang semakin terjangkau ini tentu saja membuat frekuensi transaksi menjadi lebih meningkat lagi dibanding sebelumnya. Bagi para investor, likuiditas tentu saja menjadi salah satu pertimbangan penting yang diperhatikan selama investasi.

Oleh sebab itu, stock split banyak dilakukan oleh perusahaan dengan fundamental yang baik dan harga sahamnya cukup tinggi sehingga banyak investor kesulitan membeli saham tersebut.

Hal ini juga dilakukan Unilever (UNVR) yang stock split 1:5 sehingga harga saham yang awalnya berada memiliki harga sekitar Rp 40.000 menjadi sekitar Rp 8000, sehingga lebih terjangkau untuk para investor. Kebijakan ini membantu menarik lebih banyak investor terutama investor ritel.

Akan tetapi, stock split ini tidak menjadi jaminan saham menjadi semakin likuid dan diminati banyak investor. Selain itu, peningkatan jumlah saham yang beredar juga menyebabkan dividen yield yang diterima pun menjadi lebih kecil.

Karena itu, sebelum membeli saham yang sedang stock split kamu tetap perlu memperhatikan beberapa hal krusial seperti kinerja keuangan, valuasi dari saham, dan bagaimana potensi jangka panjang dari perusahaan tersebut.

Rasio Stock Split

Dalam stock split, rasio ini sudah ditentukan sebelum diterapkan kepada publik. Rasio ini akan berbeda-beda tergantung dengan kebijakan dari korporasi yang melakukan mengambil keputusan ini.

Stock split sendiri biasanya akan menjadi salah satu topik yang dibahas saat diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehingga keputusan stock split dan rasio yang digunakan telah disepakati oleh para investor.

Selama beberapa tahun belakangan terdapat beberapa emiten yang melakukan stock split seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI); PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI); PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP); PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF); PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dan yang terbaru BBCA yang saja melakukan stock split pada akhir tahun 2021 ini.

Reverse Stock Split

Selain stock split/ split up, ada juga jenis reverse stock split yang merupakan kebalikan dari stock split di mana kebijakan ini membuat harga saham menjadi meningkat karena dilebur yang menyebabkan berkurangnya jumlah saham yang beredar di pasaran.

Contohnya, apabila reverse stock split dilakukan dengan rasio 5:1 maka 5 lembar saham akan dihitung sebagai 1 lembar dengan harga 5 kali. Apabila harga selembar saham sebelumnya 20 maka setelah split down akan menjadi 100.

Namun, kebijakan ini bisa dibilang sangat jarang terjadi jika dibandingkan dengan stock split/ split up.

Pengaruh Stock Split Terhadap Harga Saham

Stock split bisa dibilang merupakan salah satu tindakan korporasi yang bisa mempengaruhi naik turun dari harga suatu saham.

Saham-saham dengan favorit yang dulunya mahal kini menjadi terjangkau tentu saja berpotensi menarik banyak investor ritel baru yang membuat harga saham menjadi lebih tinggi karena meningkatnya permintaan.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa stock split  bukan jaminan naiknya permintaan dari saham terkait. Karena itu, pergerakan harga saham kembali lagi ke berbagai faktor lain seperti kondisi ekonomi, keadaan pasar, dan fundamental dari eminten tersebut.

Kesimpulan

Stock split adalah kebijakan yang diambil oleh perusahaan emiten untuk memecah saham mereka sesuai dengan rasio yang telah ditentukan sebelumnya. Stock split membuat harga saham menjadi lebih terjangkau dan jumlah saham beredar menjadi lebih banyak.

Berbicara terkait dengan saham, kamu harus tahu bahwa sekarang kamu bisa memiliki saham dari berbagai bisnis privat dengan kecil.

Caranya adalah dengan ikut patungan bisnis menguntungkan bareng LandX agar kamu bisa menikmati dividen dari berbagai bisnis potensial yang ada di sekitar kamu.

Karena itu..

Yuk Patungan Bisnis Menguntungkan Bareng LandX

patungan bisnis melalui skema equity crowdfunding bareng landx

Mau Berbagai Informasi Menarik Seputar Keuangan Lainnya? Yuk Follow Instagram Kami @landx.id


Baca Juga:


#YukPatunganBisnis #LandX.id    #landx.id    #InvestasiBisnis    #EquityCrowdfunding    #InvestasiMenguntungkan    #Urundana    #BisnisPatungan    #InvestasiUsaha