Investor Penerbit
menu-mobile

Zombie Bank: Pengertian dan Dampaknya

21 November 2022

|

6 Min Read

|

Author: Umar Tusin
Contoh zombie bank di Indonesia

Zombie bank adalah bank bankrut yang masih beroperasi berkat dukungan dari pemerintah. Pihak yang terlibat dari keuntungan dan kerugian zombie bank adalah pemerintah, bank yang sehat, dan masyarakat.

Apa itu zombie bank? Zombie bank adalah bank yang bankrut namun terus beroperasi berkat dukungan eksplisit maupun implisit dari pemerintah. Secara sederhana, bank zombi atau zombie bank dinyatakan bangkrut karena modal ekuitasnya telah habis sehingga nilai kewajibannya lebih besar daripada asetnya.

Modal ekuitas adalah penopang utama yang melindungi kreditur suatu bank dari kerugian. Modal tersebut menjadi penting bagi bank karena jika terjadi kebangkrutan, aset bank kehilangan nilainya lebih cepat dan lebih besar. 

Secara teknis modal yang habis dapat diartikan sebagai kebangkrutan. Dalam kondisi tersebut, aturan di beberapa negara mengharuskan pihak berwenang untuk menyita aset bank dan menghentikan bank tersebut.

Namun dalam beberapa kasus bank bangkrut, pemerintah atau bank sentral malah membantu bank tersebut melalui suntikan modal. Suntikan modal tersebut sebagai toleransi kelonggaran kepada pemberi pinjaman (bank) untuk menunda pengakuan kerugian dengan keyakinan kondisi ekonomi akan membaik dan kerugian berkurang di masa mendatang.

Istilah zombie bank pertama kali diciptakan oleh Edward Kane dari Boston College pada tahun 1987. Edward mengatakan saat itu lembaga simpan pinjam Amerika Serikat pada dasarnya sudah bangkrut oleh kerugian hipotek namun masih diizinkan dalam kegiatan bisnis. Selama krisis keuangan tahun 2008, para kolumnis, analis, dan politisi mulai menggunakan istilah zombie bank ketika berbicara tentang kondisi bank di Amerika Serikat dan Eropa yang melemah.

Keuntungan dan Kerugian Zombie Bank

Pihak yang terlibat dari keuntungan dan kerugian zombie bank adalah pemerintah, bank yang sehat, dan masyarakat. Ketakutan terbesar yang dimiliki oleh pemerintah atau bank sentral adalah ketika suatu bank mendekati kebangkrutan dan membuat panik investor, deposan, dan masyarakat pada umumnya sehingga membuat nasabah pergi ke bank lain. Jadi sangat wajar jika reaksi spontan awal dari pihak bank sentral adalah untuk mencegah kejatuhan bank tersebut.

Keuntungan zombie bank hanya terletak pada menghindari kepanikan. Meskipun pemerintah ingin menghindari kepanikan yang meluas dengan mencegah kematian zombie bank, namun terdapat sisi negatif dari mendukung atau menghidupkan kembali zombie bank.

Kerugian zombie bank bisa datang dari bank pesaing lainnya. Zombie bank akan mengganggu produktivitas bank sehat (non-zombie). Untuk bersaing dengan zombie bank, bank yang sehat akan mengambil risiko yang lebih besar juga. Ketika zombie menawarkan tarif bunga yang lebih tinggi untuk memikat deposan, pesaing yang lebih sehat kemungkinan juga akan menaikkan tarif bunga deposito agar tidak kehilangan nasabahnya.

Mengembalikan kesehatan zombie bank dapat menelan biaya yang besar dan membebani pertumbuhan ekonomi. Selain itu, dengan tidak membubarkan zombie bank, modal investor akan terjebak dan tidak dimanfaatkan secara produktif.

Jika pemerintah mensubsidi zombie bank, maka dana yang seharusnya bisa digunakan untuk tujuan produktif berisiko menjadi macet. Jadi uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan sosial dan pemberdayaan ekonomi telah diikat di zombie bank. 

Munculnya Zombie Bank Akibat Quantitative Easing

Selain pinjaman macet dan jatuhnya nilai sebuah aset, zombie bank bisa disebabkan oleh quantitative easing. Munculnya zombie bank akibat quantitative easing disebabkan oleh kebijakan bank sentral untuk meningkatkan uang beredar di masyarakat.

Quantitative easing adalah kebijakan moneter bank sentral untuk meningkatkan uang beredar dengan cara membeli surat berharga dari pasar atau membeli aset dari bank komersial atau instansi swasta. Kebijakan quantitative easing perlu memperhitungkan cadangan giro wajib minimum dengan baik.

Cadangan giro wajib minimum adalah cadangan dana bank konvensional yang harus disimpan di bank sentral sebagai mencegah risiko bank gagal bayar return bunga atau nasabah yang gagal mengembalikan uang pinjaman ke bank (kredit macet). Jika sebuah bank cadangan giro wajib minimumnya sedikit dan tidak mampu memberikan return obligasi nasabahnya, maka bank tersebut bisa dinyatakan default atau pailit. Jadi, bisa dikatakan quantitative easing munculkan bank zombie tergantung dari kecermatan bank sentral menentukan nilai obligasi yang dibeli dan berapa lama kebijakan quantitative easing tersebut berlaku.

Fenomena Layaknya Bank Zombie, Zombie Unicorn

Zombie unicorn adalah perusahaan yang memiliki nilai valuasi (nilai perusahaan) yang besar namun membutuhkan tambahan dana segar. Istilah ini berkembang pada perusahaan digital di Silicon Valley, Amerika Serikat. Meski demikian, unicorn yang sedang dalam kondisi “zombie” tidak akan tutup. Zombie unicorn masih berjalan dan perlu perbaikan manajemen meskipun kekurangan dana.

Zombie unicorn disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, strategi “bakar duit” di masa lalu, kenaikkan suku bunga yang menyebabkan biaya investasi mahal, sentimen negatif dari investor, dan kondisi geopolitik Rusia-Ukraina.Dampaknya, perusahaan akan membutuhkan investor baru, mengurangi jumlah karyawan, dan penurunan nilai kapitalisasi dan harga saham. 

Beberapa perusahaan teknologi telah dinyatakan sebagai zombie unicorn, diantaranya Netflix, Peloton, dan Robinhood. Ketiga perusahaan tersebut sudah mengalami penurunan nilai kapitalisasi dan harga saham. Peloton misalnya, per 18 Mei 2022 harga saham startup olahraga ini sebesar US$14,4 per lembar atau turun 44% sejak awal 2022. Nilai kapitalisasi Peloton juga turun 58% sejak akhir 2021 menjadi  US$4,96 miliar per Mei 2022. Selain itu, Peloton juga merumahkan 2.800 karyawannya pada Februari 2022.

Contoh Zombie Bank 

Salah satu contoh zombie bank adalah kasus bank zombie yang terjadi di Jepang pada tahun 1990. Setelah jatuhnya harga properti dan pasar saham di negara Jepang, beberapa bank besar negara tersebut bangkrut dan mengalami zombie bank. Namun, pemerintah Jepang terus mendukung bank-bank tersebut melalui penjaminan dan dana talangan.

Bank-bank tersebut hanya memakan uang tanpa memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian. Hal ini mengakibatkan kinerja ekonomi yang lemah selama sekitar satu dekade. Ekonom menyebut periode ini sebagai ‘dekade yang hilang’ bagi Jepang. Bahkan setelah 30 tahun, banyak bank zombi Jepang masih memiliki sejumlah besar aset bermasalah.

Sedangkan salah satu contoh zombie bank di Indonesia adalah kasus Bank Century. Pada akhir 2008 Bank Century yang sudah bangkrut mendapat bantuan keuangan (bailout) oleh pemerintah sebesar 6,762 triliun.

Waspada Bisnis Zombie dalam Investasi

Mirip dengan bank zombie, bisnis zombie secara teknis telah bangkrut. Bisnis zombie hanya dapat membayar kembali hutangnya dan tidak dapat mengembangkan bisnisnya. Jika bank menawarkan persyaratan pinjaman yang ketat, bisnis zombie akan berhenti atau bangkrut.

Berdasarkan penelitian yang dirilis The European Journal of Finance, ketika jumlah perusahaan zombie dalam suatu industri meningkat maka penciptaan lapangan kerja akan menurun dan berpengaruh negatif pada perusahaan non-zombie lainnya. Bisnis zombie cenderung kurang menguntungkan dan lebih banyak berhutang. Hal tersebut menegaskan bahwa industri yang didominasi bisnis zombie akan membuat lapangan kerja berkurang dan produktivitas yang lebih rendah.

Kelangsungan hidup perusahaan zombi dapat mendesak investasi dan pekerjaan di perusahaan yang sehat. Menurut lembaga keuangan investasi Amerika, Goldman Sachs pada tahun 2022 sebanyak 13% perusahaan yang terdaftar di Amerika Serikat masuk kategori bisnis zombie.

Tak hanya di Amerika, di Indonesia beberapa bisnis zombie juga juga pernah ditemukan pada sektor BUMN. Beberapa perusahaan BUMN tersebut akhirnya dinyatakan pailit dan diberhentikan setelah menjadi bisnis zombie.

Bisnis atau perusahaan adalah salah tujuan investor untuk menambah pendapatan finansial. Saat ini, investor yang ingin menanamkan modal di perusahaan harus lebih berhati-hati agar terhindar dari risiko bisnis bangkrut.

Jika kamu ingin investasi dengan membeli saham perusahaan di pasar modal, maka kamu harus mempelajari beberapa aspek seperti profil perusahaan, rincian laporan keuangan, mekanisme bisnis, dan risiko perusahaan tersebut. Setelah kamu mempelajari beberapa aspek tersebut kamu bisa memilih saham perusahaan yang kamu anggap aman dan menguntungkan.

Selain saham di pasar modal, kamu juga bisa berinvestasi dengan membeli saham di sistem equity crowdfunding. Equity crowdfunding adalah sistem urun dana yang dilakukan oleh investor dan akan diberikan kepada pelaku usaha atau perusahaan yang sedang mengembangkan atau memulai bisnisnya.  Pemberian dana modal dari investor tersebut dilakukan dengan cara membeli saham perusahaan yang listing di platform equity crowdfunding.

Salah satu platform equity crowdfunding berizin OJK adalah LandX. Tenang saja, kamu juga bisa melihat aspek-aspek seperti profil perusahaan, rincian laporan keuangan, mekanisme bisnis, dan risiko perusahaan melalui prospektus yang bisa kamu unduh di platform LandX. Dengan mempelajari prospektus tersebut, kamu bisa memperbesar peluang terhindar dari bisnis zombie dalam investasi.

Jadi Tunggu Apa Lagi? Ayo Dapatkan Saham Rp1 Jutaan di LandX!